From Mountain With Laugh
Ada kalimat bijak berbunyi “akar dari segala kejahatan ialah cinta uang.” Di sinema, kalimat itu bisa dipelesetkan: akar dari segala sekuel adalah cinta uang. Simpel saja, jika film pertama sukses di bioskop, lanjutannya hampir pasti segera dibuat demi cuan.
Sekawan Limo pun punya nasib begitu. Laris di bioskop pada 2024 lalu, suksesnya bikin produser Chand Parwez ngebut siapkan sekuelnya, Sekawan Limo 2: Gunung Klawih. Kursi sutradara masih untuk Bayu Skak yang juga aktor utamanya. Tentu saja filmnya tetap dengan dialog boso Jowo.
Ceritanya berlatar tiga tahun pasca peristiwa Gunung Madyopuro. Anggota Sekawan Limo kumpul lagi di pesta ulang tahun anak Andrew (Indra Pramujito). Namun reuni itu malah jadi petaka, ketika mereka melihat keluarga Andrew terancam jadi tumbal maut. Satu-satunya solusi ada di Gunung Klawih. Berangkatlah Sekawan Limo.
Dibuka dengan pengenalan masalah karakter yang tertatih-tatih, filmnya sempat lambat mencari pijakan. Namun, beban ekspektasi besar perlahan terbayar karena rasa kepo penonton tak pernah padam. Materi pemainnya kocak, dari Bayu Skak, Benedictus Siregar, hingga senior macam Cak Kartolo dan Marwoto. Kombo lintas generasi yang bikin ritme humornya cair. Alhasil, kerja Joshua Suherman sebagai konsultan komedi pun mulus dalam memberi punchline.
Hasilnya kocak. Niat Bayu bikin film horor malah belok menjadi komedi absurd. Dunia hantu dibuat liar, lengkap dengan logika paralel sendiri. Dari sini, karakter Juna (Benedictus Siregar) adalah senjata utama dan dieksploitasi habis-habisan: diam pun sudah lucu, apalagi ketika bicara.
Namun film ini tak melulu soal komedi. Masih ada ruang untuk drama romansa dan relasi personal. Andrew dan keluarganya, Lenni (Nadya Arina) dan Bagas (Bayu Skak), hingga nasib tragis Juna yang jadi lelucon hangat. Ada pula wacana politik dan budaya Tionghoa sebagai pelengkap cerita.
Sekuel Sekawan Limo memang dibuat semata untuk menghibur. Cerita ngawur, logika yang liar, hingga kekonyolan aktornya menjadi kunci. Motif sekuel ini bukan sekadar “cinta uang”, tapi meramu tontonan receh yang memikat dan ‘nyenengke’.
Skor: 7.5/10
review oleh: Bobby Batara