Sepatu, Kemiskinan, dan Orde Baru
Sutradara Hanung Bramantyo kembali bikin remake setelah pernah sukses mengadaptasi film Tailan. Kini ia membuat remake untuk produk legendaris Iran, Children of Heaven karya Majid Majidi. Apakah Hanung mampu memoles warna baru tanpa menghapus ruh film aslinya?
Membuat remake relatif lebih mudah karena fondasi ceritanya memang sudah kuat. Tinggal cocokkan dengan kearifan lokal dan semangat zaman. Kemudahan lainnya ada pada teknologi lebih maju ketimbang versi originalnya yang buatan 1997. Percayalah, sisi visual versi adaptasi pasti lebih rapi dan sinematik di tangah Faozan Rizal.
Masalahnya kini tantangan tak semata teknis, tetapi ekspektasi publik. Sinefil kenal betul cerita Children of Heaven, cerita klasik kakak-beradik miskin yang bergantian memakai satu-satunya sepatu sekolah. Ya, problem yang relevan hingga kini.
Konfliknya simpel, namun emosinya relate dengan kehidupan sehari-hari. Dalam versi Indonesia, Ali dan Zahra dimainkan Jared Ali dan Humaira Jahra (kebetulan mirip nama castnya). Keduanya tampil natural meski dialog logat Jawanya acap terdengar janggal.
Hanung memindahkan latar cerita ke Semarang era Orde Baru 1988. Pilihan menarik karena menghadirkan konteks sosial berbeda dari versi Iran. Jika di Iran perempuan wajib berhijab, sedangkan di Indonesia masa itu jilbab justru belum bebas dipakai. Namun satu isu yang masih tetap sama: sepatu masih menjadi barang mewah bagi keluarga miskin.
Agar terasa dekat dengan penonton Indonesia, Hanung menambahkan unsur komedi lewat kehadiran sejumlah komika. Sebagian sukses mencairkan suasana dan warna berbeda. Namun ada pula yang terasa mengganggu, macam pantun kepala sekolah yang dimainkan Muhadkly Acho. Aduh, berat betul beban komika hari gini. Harus lucu!
Meski belum mampu menandingi kekuatan emosional versi aslinya, remake ini tetap berhasil menangkap ruh utama film versi Majid Majidi: sederhana dan menyentuh. Di tengah tren remake yang acap terasa sekadar jualan nostalgia, film ini masih punya hati dan empati yang tulus.
Skor: 7/10
review oleh: Bobby Batara