Potret Keluarga Modern di Era AI
Kehadiran seseorang dalam hidupmu tidak bisa digantikan oleh Artificial Intelligece (AI) secanggih apa pun. Apalagi kehadiran seorang ibu bagi anaknya. Karena bagaimanapun AI tetaplah sebuah program komputer buatan manusia. Ia hanya kumpulan data yang tidak punya kesadaran dan emosi. Inilah kiranya pesan yang ingin dikemukakan oleh film “Mothernet” atau— judul Indonesianya—Esok Tanpa “Ibu”. Sebuah film hasil kolaborasi sineas Indonesia dengan sineas Korea Selatan.
Dikisahkan sebuah keluarga kelas menengah pindah dari Jakarta ke daerah yang tidak sepadat dan sesibuk Jakarta demi mengejar mimpi mereka membuat perusahaan desain bernama “Esok”. Keluarga ini tidak hanya melek teknologi tetapi juga bahkan menggunakannya dalam keseharian mereka. Rumah mereka dilengkapi AI yang membantu hampir semua kegiatan yang mereka lakukan. Mereka mengenakan jam tangan pintar yang siap menjawab setiap pertanyaan, mulai dari menu masakan hingga tips kesehatan.
Keputusan mereka pindah tampaknya tanpa meminta pendapat Rama (Aly Fikry), anak baru gede pasangan Laras (Dian Sastro) dan Hendi (Ringgo Agus Rahman). Hal ini menyebabkan konflik kecil di antara mereka, ditambah komunikasi yang buruk antara Hendi dan Rama. Di mata Rama, Hendi adalah ayah yang tukang menasihati tapi tidak mau mendengar pendapat anaknya yang selalu dianggap salah. Sebaliknya dalam pandangan Hendi, Rama terlalu banyak mengeluh dan susah dipahami.
Hanya Ibu yang bisa menjalin komunikasi dengan Rama. Ibu selalu siap mendengar pendapat Rama, mencoba mengerti keinginan Rama. Ibu memahami anaknya yang berada dalam fase usia serba tanggung: anak-anak bukan, dewasa pun belum. Sampai sini saja film ini terasa sangat relate dengan banyak keluarga yang menghadapi kesulitan menjalin komunikasi dua arah yang sehat dengan anak remaja mereka, bagaimana berinteraksi secara menyenangkan dan saling menghargai.
Kebanyakan orangtua tidak mau belajar dan mencari tahu bagaimana membangun komunikasi yang baik dengan anak remaja mereka. Selalu merasa benar sendiri, dan menganggap anak-anak tak tahu apa-apa. Alih-alih mendekati anaknya, mereka justru menghindarinya. Akhirnya relasi antara anak-orangtua jadi tidak seimbang. Mereka tidak terhubung satu sama lain di tengah koneksi internet yang serba cepat. Sangat ironis memang. Situasiseperti ini menimbun banyak masalah yang bila dibiarkan bisa meledak dan memperumit hubungan.
Inilah yang terjadi antara Rama dan Hendi. Sialnya, dalam film garapan Ho Wi-ding ini, ibu yang mampu membangun komunikasi dengan Rama justru jatuh koma, kemudian meninggal. Lalu temannya Rama menawarkan aplikasi I-Bu, sebuah aplikasi yang menyerupai ibu yang mampu menjawab pertanyaan apa pun. Aplikasi I-BU memang mampu mengobati kangen Rama kepada sosok ibu, demikian pula Bapak yang semula menolak, belakangan menggunakan aplikasi I-BU. Namun pada saat yang sama hubungan Rama dan Bapak semakin rumit. Mereka semakin sulit menjalin komunikasi. Hingga konflik pun meletup lagi.
Film ini berhasil menampilkan gambaran sebuah keluarga yang banyak dibantu sekaligus diruwetkan oleh AI. Akting Aly Fikri sebagai anak baru gede sangat mengesankan. Dia mampu mengimbangi akting Dian Sastro dan Ringgo Agus Rahman dengan sangat baik. Ketiganya secara solid memainkan sebuah keluarga kelas menengah ibukota dengan persoalan yang relevan kondisi masyarakat hari ini . Alur dan konflik antarkarakter tergarap rapi dengan porsi yang serba pas.
Kekurangan film ini adalah kurang memperlihatkan proyek desain yang dikerjakan Esok. Akan lebih menarik apabila diperlihatkan dan dikaitkan secara langsung dengan alur cerita. Kekurangan lainnya adalah casting, wajah Rama sebagai anak tidak ada kemiripan sama sekali dengan ayah maupun ibunya.
Skor: 7.5/10
review oleh: Aris Kurniawan