Tentang Kesepian yang Mematikan dan Ketulusan yang Menyembuhkan
Kesepian sanggup membunuh seseorang. Kesepian membuat seseorang merasa tak punya harapan, tak ada ruang untuk berbagi kesedihan dan kegembiraan. Film “Surat dari Masa Mudaku” garapan Sim F dengan baik menggambarkan bagaimana kesepian sanggup membunuh seseorang. Membuat seseorang menjadi pembenci hidup dan kebaikan. Seluruh dunia seolah meninggalkannya. Menjebaknya dalam ruang hampa.
Dalam film ini orang yang merasa kesepian dan kehilangan itu bukan hanya Pak Simon (Agus Wibowo), tetapi juga Kefas remaja (Millo Taslim). Pak Simon kehilangan istri tercinta dan putra semata wayangnya yang sangat ia cinta dan menjadi tumpuan harapan. Maka Pak Simon merencanakan untuk mengakhiri hidupnya dengan cara elegan. Dia mempersiapkan rencana kematian dengan rinci dan sebaik-baiknya. Sambil menunggu waktu yang tepat menjalankan rencananya dia diminta Wahyu, sahabatnya, untuk menjadi pengurus panti asuhan ‘Pelita Kasih’ dengan perjanjian sesuai waktu yang dia tentukan, hanya dalam hitungan bulan.
Beberapa pengurus panti sebelum Pak Simon berlaku tidak amanah. Mereka mencuri barang-barang sumbangan (termasuk bahan-bahan makanan). Mereka juga kurang mengurus anak-anak panti. Malah sibuk mencuri bahan makanan milik panti. Bahkan ketika Kefas membutuhkan pertolongan untuk membawa adiknya ke rumah sakit karena terkena demam tinggi, mereka abaikan. Sehingga nyawa adik Kefas tidak terselamatkan. Dari sanalah Kefas tumbuh jadi anak bengal yang selalu jadi biang kekacauan di panti. Dia selalu berpikir buruk kepada setiap pengurus panti. Di mata Kefas semua pengurus adalah pencuri, karena itu harus dibikin tak betah lama-lama jadi pengurus.
Demikian pula ketika Pak Simon datang sebagai pengurus baru, Kefas mempengaruhi anak-anak penghuni panti untuk mengerjainya. Dari mulai memasukkan bangkai tikus ke kamar Pak Simon, membuat kegaduhan di lingkungan sekitar panti hingga mengencingi buku pelajaran teman sekolahnya. Alur film ini bergerak dari konflik antara Pak Simon dan Kefas. Dua orang yang sama-sama menanggung lara karena kehilangan orang yang paling disayangi.
Rasa kesepian yang mematikan yang dirasakan dua karakter utama film ini sampai tepat ke jantung penonton. Membuat saya sebagai penonton berempati kepada dua karakter yang merefleksikan kesepiannya dengan cara berbeda. Tentu saja kita juga berempati kepada anak-anak panti. Kecocokan antara anak-anak panti, Pak Simon yang tak banyak bicara sangat terasa. Meskipun interaksi mereka tidak terlalu banyak.
Setting waktu 1980-an yang dihadirkan film ini sangat meyakinkan. Bukan hanya properti seperti mobil dan rumah, tapi juga pakaian, riasan, gaya bahasa, dan pernik-pernik lainnya yang membuat kita percaya itu berada di masa tersebut. Film ini tidak sekadar membawa pesan yang mendalam tentang perlunya berbagi dan menebar kasih kepada sesama dengan tulus, tetapi juga jadi ruang refleksi bagi penonton melihat lebih dalam kepada diri sendiri. Jangan terlalu cinta harta melebihi sesama yang membutuhkan.
Melalui karakter Gabriel (Verdi Solaiman), seorang manager perusahaan layanan ‘rumah duka’, film ini mengkritik kecenderungan orang modern yang mengkomersilkan apa pun, termasuk kematian seseorang. “Akar segala kejahatan ialah cinta uang. Akibat terlalu memburu uang, banyak orang tersesat dari iman dan mendatangkan banyak penderitaan bagi diri mereka sendiri. (Timotius 6:10).
Tentu saja ini film tak hanya menawarkan keharuan dan membuat mata berkaca-kaca dan dada menjadi hangat, tapi juga komedi yang sanggup membuat penonton tertawa lega. Kekurangan film ini seperti umumnya kelemahan film Indonesia adalah casting atau pemilihan pemain, Kefas remaja yang diperankan Millo Taslim dengan Kefas dewasa yang dimainkan oleh Fendy Chow masih okelah, tapi beberapa pemeran tokoh saat anak-anak dan saat dewasa masih kurang cocok. Walaupun kekurangan ini tak mengganggu seluruh elemen lain yang solid.
Skor: 7.5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan