Drama Komedi Romantis dengan Sentuhan Sosial yang Lemah
Film bergenre drama komedi romantis umumnya berkutat pada persoalan-persoalan yang relatif ringan dan jarang menyentuh isu sosial. Konflik yang dihadirkan biasanya berpusat pada dinamika perasaan antartokoh, seperti kecemburuan, kerinduan yang menggebu, atau kesalahpahaman sederhana yang kerap terasa dangkal dan kekanak-kanakan. Film “Balas Budi” mencoba keluar dari kecenderungan tersebut.
Lewat garapan Reka Wijaya ini, penonton diajak menyoroti fenomena penipuan bermodus hubungan asmara (love scam) yang semakin marak sejak media sosial menjadi bagian dari kehidupan sehari-hari. Korbannya sebagian besar adalah perempuan dari berbagai latar belakang sosial. Ketika jatuh cinta, seseorang kerap kehilangan kewaspadaan sehingga mudah terjerat bujuk rayu pelaku. Namun, film ini tidak berhenti pada isu tersebut. Di balik premisnya, “Balas Budi”masih menyimpan sejumlah kejutan yang membuat ceritanya terasa lebih segar dan menyenangkan daripada yang diduga.
Film dibuka dengan adegan yang langsung menyedot perhatian. Alma (Michelle Ziudith) gagal melangsungkan pernikahan dengan kekasihnya Budi (Yoshi Sudarso) yang ternyata menipunya. Sudut-sudut pengambilan gambar sangat variatif. Begitu pula saat kamera bergerak menampilkan flash back bagaimana proses pertemuan pertama Alma dan Budi, lalu keduanya menjalin hubungan kekasih, hingga akhirnya merencanakan pernikahan, dan Alma menjadi korban love scam. Setelah tenggelam dalam kesedihan, Alma tergerak untuk melakukan pembalasan. Dia menghubungi perempuan-perempuan lain yang menjadi korban Budi, lalu mereka merencanakan balas dendam.
Film lalu lalu bergerak memperkenalkan tiga korban Budi lainnya, yaitu Ayu (Niken Anjani), Uli (Givina Lukita Dewi), dan Thalita (Gisella Anastasia). Mereka semua cewek-cewek dari kalangan atas yang bisa dengan mudah mentransfer uang miliaran sekadar untuk bersenang-senang. Alma adalah putri konglomerat yang memiliki koneksi ke penguasa, demikian pula Ayu dan Thalita. Pendeknya mangsa Budi adalah kelas kakap. Maka penonton diperlihatkan kehidupan kelas atas yang serba mewah, mansion megah, mobil-mobil sport, pesta-pesta, arisan berlian sosialita dan sejenisnya.
Film ini secara mulus menggambarkan kehidupan anak-anak dari kalangan orang kaya. Interaksi antarkarakternya pun berjalan bagus, relatif tak ada yang mengganggu. Tetapi bagaimanakah film ini memperlihatkan proses keempat cewek ini membalas dendam? Inilah yang sangat kurang digarap dengan baik dan semuanya terkesan terburu-buru. Interaksi yang baik antarkarakternya tak diikuti pendalaman setiap karakter. Akibatnya setiap karakter seperti tidak memiliki watak dan sikap yang khas.
Proses perencanaan dan pembalasan dendam pun tidak diperlihatkan detil-detilnya, semuanya terlihat tiba-tiba. Mereka tiba-tiba bisa dengan mudah masuk ke dalam pesta dan mendapati target. Padahal apabila proses ini diperlihatkan proses dan tahap-tahapannya, bukan hanya akan menambah daya Tarik karena tentunya banyak kejutan-kejutan atau adegan-adegan yang menegangkan, tetapi juga memperkuat alur. Konflik yang terjadi di antara keempat cewek ini yang menyebabkan rencana pembalasan hampir batal diselesaikan dengan begitu mudah. Gaya karakter utama berbicara langsung kepada penonton dengan menatap ke kamera juga tidak memberi efek apa-apa bagi alur film ini selain sekadar beda. Bahkan gaya bertutur semacam itu jatuhnya malah seperti menyuapi penonton.
Selain itu kelemahan film ini ada pada penulisan skenario seperti kedodoran untuk melanjutkan alur. Padahal film ini sudah memiliki modal cerita yang bagus. Tinggal menggerakkan.
Skor: 5,5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan