Komedi Romantis yang Melanggengkan Tradisi dan Mitos Seputar Pernikahan
Masyarakat Indonesia masih menempatkan pernikahan sebagai salah satu pencapaian paling penting dalam hidup seseorang. Pernikahan dipandang bukan sekadar pilihan pribadi, melainkan penanda kedewasaan, keberhasilan, bahkan ukuran kebahagiaan. Seseorang yang belum menikah pada usia tertentu kerap menjadi sasaran pertanyaan, tekanan, hingga rasa iba dari keluarga maupun lingkungan sekitar. Dalam cara pandang semacam itu, status menikah seolah menjadi portal menuju kehidupan yang dianggap “sempurna”. Dengan menikah seseorang seakan secara otomatis berhasil menyelesaikan satu masalah terbesar dalam hidupnya. Film “Yakin Nikah” (2025) karya sutradara Pritagita Arianegara menjadikan pandangan sosial tersebut sebagai fondasi utama cerita, tetapi sayangnya lebih banyak mereproduksi ketimbang mengkritisinya.
Tokoh utamanya, Niken (Enzy Storia), digambarkan sebagai perempuan mapan yang mulai dihantui kecemasan karena belum juga menikah. Kegelisahan itu tidak sepenuhnya lahir dari dirinya sendiri, melainkan dari tekanan keluarga, terutama sang ibu (Ersa Mayori), dan lingkungan sosial yang menganggap perempuan seusianya sudah seharusnya memiliki suami. Situasi menjadi semakin rumit ketika Anggi (Amanda Rigby), adik Niken, telah menentukan tanggal pernikahan dengan Danny (Arya Vasco). Dalam budaya Indonesia masih hidup kepercayaan bahwa kakak perempuan yang “dilangkahi” menikah oleh adiknya merupakan suatu aib yang memalukan. Mitos inilah yang kemudian menjadi mesin penggerak konflik sepanjang film.
Masalah bertambah pelik ketika Arya (Maxime Bouttier), kekasih Niken, ternyata belum memiliki rencana menikah karena terlalu fokus mengejar karier. Di saat yang sama Gerry (Jourdy Pranata), mantan kekasih yang dulu menghilang menjelang rencana pernikahan mereka, tiba-tiba datang kembali dengan niat serius mengajak Niken menikah. Kehadiran dua laki-laki dengan kesiapan yang bertolak belakang membuat Niken berada dalam persimpangan. Bersama kedua orang tuanya, ia kemudian menyusun berbagai “tes” untuk menentukan siapa yang paling layak menjadi suami. Dari sinilah film membangun berbagai situasi komedi romantis yang cukup menghibur, lengkap dengan salah paham, kecanggungan, dan dinamika hubungan antarkeluarga.
Formula tersebut bekerja cukup efektif sebagai hiburan. Ritme cerita mengalir ringan, dialognya terasa akrab, sementara humor lebih banyak lahir dari situasi ketimbang lelucon yang dipaksakan. Chemistry antarpemain juga cukup terbangun sehingga konflik cinta segitiga tidak terasa terlalu melodramatis. Enzy Storia mampu menghadirkan sosok perempuan yang bimbang tanpa terjebak menjadi karakter yang berlebihan. Maxime Bouttier dan Jourdy Pranata sama-sama tampil natural dengan karakter masing-masing, sementara Ersa Mayori menghadirkan figur ibu yang cerewet namun tetap terasa dekat dengan realitas keluarga Indonesia.
Namun, di balik kemasan komedi romantis yang ringan, film ini menyisakan persoalan yang cukup mendasar. Alih-alih mempertanyakan mengapa perempuan harus menanggung beban sosial karena belum menikah, film justru menerima anggapan tersebut sebagai sesuatu yang wajar. Tekanan keluarga, ketakutan dilangkahi adik, hingga keyakinan bahwa menikah adalah solusi atas keresahan hidup tidak pernah benar-benar dipersoalkan. Semua itu diterima sebagai fakta yang harus segera diselesaikan melalui pernikahan. Akibatnya, film kehilangan kesempatan untuk menawarkan perspektif yang lebih segar mengenai kebebasan perempuan menentukan jalan hidupnya.
Padahal keluarga Niken digambarkan sebagai keluarga kelas menengah urban yang berpendidikan. Ironisnya, mereka tetap menjadi penjaga tradisi yang justru membatasi pilihan perempuan. Film seakan ingin mengatakan bahwa modernitas tidak otomatis mengubah cara berpikir masyarakat Indonesia tentang pernikahan. Dalam hal ini, “Yakin Nikah” mungkin memang memotret kenyataan sosial yang masih banyak dijumpai. Persoalannya, film tidak mengambil jarak kritis terhadap kenyataan tersebut. Ia lebih memilih mengafirmasi daripada mengajaknya berdialog.
Di luar persoalan ideologis itu, secara teknis “Yakin Nikah” merupakan tontonan yang rapi. Penyutradaraan Pritagita Arianegara terasa bersih dan tidak berlebihan. Permainan para aktor berlangsung seimbang; tidak ada penampilan yang terlalu mencolok, tetapi juga tidak ada yang terasa mengganggu. Detail kecil seperti penggunaan sapaan “kakak” dan “ade” di dalam keluarga ikut memperkuat nuansa kelas menengah urban Indonesia yang akrab di telinga penonton. Pada akhirnya, “Yakin Nikah” berhasil sebagai komedi romantis yang ringan dan menghibur, tetapi gagal memanfaatkan premisnya untuk mengkritik mitos-mitos tentang pernikahan yang hingga kini masih membebani terutama perempuan Indonesia.
Skor: 6/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan