(Taking) Life in A Box
Ada pembuat film yang namanya identik dengan satu genre saja. Dinna Jasanti misalnya, selama ini dikenal konsisten dengan genre drama, bahkan sampai mencetak box office. Kini ia coba cicipi genre horor dalam proyek Paket Santet.
Kendati masuk ke ranah baru, Dinna tetap membawa keahliannya di genre drama. Buktinya ada kisah asmara yang tumbuh di antara para karakter. Bumbu ini menjadi bagian yang tak kalah menariknya, karena memang jelas menjadi zona nyaman bagi sang sutradara.
Fokus cerita ada pada tujuh mahasiswa yang hidupnya berubah kacau setelah menerima paket misterius tanpa identitas pengirim. Paket itu ternyata membawa kutukan santet yang mengancam nyawa. Salah satunya, Deva (Fatih Unru) yang mencoba menguak misteri di balik paket itu, sekaligus mencari cara agar mencegah kutukan sebelum jatuh korban baru.
Gagasan Paket Santet sederhana saja dan relate, membawa praktik santet ke era kekinian dalam kebiasaan pengiriman paket. Dengan skenario yang ditulis Titien Wattimena, Dinna mengeksekusinya dengan cukup lincah.
Bumbu drama romansanya memberi ruang bagi karakter agar tak sekadar menjadi korban dalam menanti giliran tewas. Namun, bagian ini juga belum sepenuhnya menyatu dengan misteri utama. Beberapa relasi terasa lebih berfungsi sebagai pemanis ketimbang memperkuat konflik.
Pola ceritanya sendiri mengingatkan pada novel Agatha Christie, And Then There Were None. Ketika kita mulai mengenal karakternya, satu demi satu mereka tewas mengenaskan. Bedanya, Dinna mengemas setiap kematian itu dengan sentuhan bumbu slasher yang rapi dan memikat. Beberapa di antaranya terasa sadis.
Di balik kematian demi kematian muncul pertanyaan: siapa yang diuntungkan dan apa motifnya? Ikatan persahabatan pun berubah menjadi arena saling tuding. Kini film menyuguhkan formula whodunit. Namun akhirnya yang paling mengerikan bukan siapa pembunuhnya, melainkan siapa yang masih bisa dipercaya?
Skor: 7/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara