Horor dengan Pendekatan Realistis
Setelah menggebrak sinema Indonesia dengan film thriller “Preman” (2021) yang mendapat banyak pujian dan masuk nominasi Film Terbaik Festival Film Indonesia, Randolph Zaini kembali lagi. Kali ini dengan film horor-psikologi thriller berjudul “Dia Bukan Ibu” (2026). Randolph butuh lima tahun untuk kembali menggarap film sejak film pertamanya.
Randolph nama yang cukup menjanjikan, dia mampu membuat pendekatan yang berbeda pada genre horor. Seperti film “Preman” yang memberi warna baru dalam genre drama action, kini “Dia Bukan Ibu” memberi napas berbeda pada film horor Indonesia. Lewat film yang diadaptasi dari thread JeroPoint ini menawarkan horor atmospheric dengan nuansa psikologi thriler yang mencekam namun dengan pendekatan realistis. Cerita film ini mengangkat isu kesehatan mental. Seorang ibu bernama Yanti (Artika Sari Dewi) dihantui trauma dan kesedihan akibat ditinggalkan oleh suaminya yang mempengaruhi mentalnya.
Dengan harapan dapat keluar dari trauma, Yanti membawa dua anaknya, Vira (Aurora Ribero) dan Dino (Ali Fikry), Ibu pindah dari rumah lama ke kompleks perumahan yang sepi yang ditinggalkan penghuninya. Di perumahan yang sepi itu Ibu membuka salon kecantikan. Sejak pindah rumah, Vira dan Dino melihat ibu mereka berubah menjadi lebih ceria dan bersemangat. Namun pada saat bersamaan perlahan-lahan wataknya berubah. Alur film bergerak dari pertanyaan siapa sesungguhnya wanita ini, ibu atau bukan?
Lama kelamaan perubahan itu cukup mengganggu Vira dan Dika, sehingga mereka mencari cara mendapatkan bukti bahwa Yanti masih ibu mereka. Artika Sari Dewi berhasil memainkan sosok ibu yang otoriter sekaligus rapuh dan punya perilaku yang tidak terduga. Dan atmosphere horor itu dibangun dari perubahan watak Ibu ini. Ekspresi wajah, gestur, dan tekanan suara, juga benda-benda seperti pisau, gelas, gunting. Karakter Ibu dalam ini jadi terasa unik. Dia menyayangi kedua anaknya tapi melukai.
“Dia Bukan Ibu” jelas bukan jenis film horor yang mengandalkan kemunculan hantu yang ngaget-ngagetin. Karena kengerian hadir justru hadir seorang ibu yang lembut dan rapuh. Juga dari hubungan antaranak dan ibu dengan dialog yang mengganggu kenyamanan. Anak-anak kehilangan sang ibu yang secara fisik berada bersama mereka di rumah, tapi tak ada kehangatan. Kalaupun ada terasa janggal. Bagi kebanyakan penonton Indonesia pendekatan horor yang ditawarkan Randolph memang belum bisa diterima. Terbukti film ini tidak sukses secara komersial.
Bila apa yang ingin disampaikan film ini adalah tentang isu kesehatan mental adalah sesuatu yang harus disikapi serius, maka film berhasil. Bahwa kesehatan mental adalah masalah serius karena dapat berdampak serius, terutama bila sosok yang mengalami masalah kesehatan mental adalah seorang ibu.
Skor: 7/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan