Horor Pendakian yang terasa Membosankan
Belakangan film horor dengan latar pendakian gunung menjadi trend. Pemicunya adalah antara lain tentu saja larisnya film berlatar pendakian gunung, antara lain “Sekawan Limo” (Juli, 2024) dan “Petaka Gunung Gede” (Februari, 2025). Kisah dan alur film-film tema pendakian ini mirip satu sama lain. Termasuk film “Dusun Mayit” yang rilis pengujung 2025.
Cerita film “Dusun Mayit” mengikuti empat mahasiswa yang kuliah di Malang. Mereka adalah Yuni (Amanda Manopo), Nita (Ersya Aurelia), Aryo (Fahad Haydra), dan Raka (Randy Martin). Dua pasang remaja ini melakukan pendakian di gunung Welirang. Dalam pendakian keempatnya terjebak di Dusun Mayit. Bagaimana upaya mereka keluar dari dusun tersebut itulah yang menggerakkan alur cerita film Garapan Rizal Mantovani ini.
Film horor pendakian gunung memiliki banyak peluang untuk menciptakan horor mencekam. Lokasi yang jauh dari keramaian, rerimbun pepohonan dan semak alang, telaga, kawah dan semacamnya adalah sebuah lokasi yang memenuhi syarat untuk membangun suasana horor. Tetapi sayangnya banyak film horor yang menggarap latar pendakian ini tak mampu menggalinya. Akhirnya yang terjadi hanya mereproduksi belaka.
Begitu pula dengan “Dusun Mayit”, dari tokoh-tokohnya kita tidak disuguhi karakter yang kuat dan meyakinkan. Nita yang ceroboh dan mengabaikan tata krama pendakian yang menyebabkan kemarahan penunggu gunung; Yuni yang memiliki kemampuan supranatural yang diwarisi dari leluhurnya; Aryo yang rasional dan bijak; serta Raka yang ambisius dan grusa grusu. Tetapi watak mereka tidak memperkuat alur cerita. Mereka tidak memiliki kekhasan yang membuat penonton yakin dan merasa terlibat secara emosi.
Keberadaan Dukun Mayit di mana mereka terperangkap gagal menciptakan suasana seram. Karena digarap serba nanggung, dari mulai spesial efek, desain kampung mayit, busana penghuni kampung mayit, hingga raksasa penguasa kampung mayit. Alih-alih mencekam, malah hampir jadi komedi. Animasi film ini buruk dan membosankan. Akting para pemain juga tak ada yang menonjol. Mereka tak memiliki kualitas untuk diberi simpati maupun dibenci penonton.
Alhasil, ”Dusun Mayit” menjadi film yang gagal memanfaatkan potensi premisnya. Ketegangan dibangun secara datar, kejutan horornya mudah ditebak, sementara konflik antartokohnya juga kurang berkembang. Film ini lebih terasa sebagai rangkaian adegan horor yang berulang daripada sebuah perjalanan emosional yang mampu meninggalkan kesan mendalam bagi penonton.
Skor: 5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan