100% Manusia Film Festival 2026 resmi dibuka pada Kamis (6/8) Malam, di Erasmus Huis, Pusat Kebudayaan Belanda, di Kedutaan Belanda di Jakarta. Pembukaan Festival berlangsung meriah dihadiri para penggiat festival serta para undangan yang datang.
Sebagai pembuka Festival, menyuguhkan 6 film pendek karya anak bangsa yang telah dipilih. Keenam film ini adalah Waktu Luang (Tangerang), Folding Sadness (Medan), Malam Sepanjang Nafas (Kupang), BAGUS: Dancing Like a Lady (Magetan), Parade si Rambo (Jakarta) dan Selamat Tidur, Adil! (Sidoarjo). Seluruh film yang diputar mendapatkan aplaus dari penonton yang hadir dalam acara pembukaan festival.
Terkait Festival, Menurut Meninaputri Wismurti, Kepala Program Film di 100% Manusia Film Festival, seluruh program film tahun ini dikurasi dengan mempertimbangkan beragam wajah kemanusiaan di kehidupan sehari-hari. “Tahun ini kami banyak melihat cerita yang menampilkan keberanian manusia dalam berekspresi, perlawanan terhadap ketidakadilan, dan kemauan untuk terus bertahan di tengah himpitan. Serunya, film-film ini hadir dengan berbagai genre pop seperti komedi, animasi, horror, thriller dan kecenderungan “bermain’ dengan unsur kenangan/memori, seperti foto-foto yang tercetak, arsip lama, suara, arsitektur, dan lainnya. Hal ini menunjukkan bahwa kemanusiaan bisa dirasa apabila kita mau membuka hati dan mata,” jelasnya.
Hannah Al Rashid, aktris yang membintangi Lyora: Penantian Buah Hati (2025), Mirage: Eigenstate (2024), dan Never Back Down: Revolt (2021) dan juga Duta Festival dari 100% Manusia Film Festival 2026 mengatakan bahwa festival ini menjadi penting dan istimewa karena memberikan ruang aman yang mendukung percakapan tentang isu kemanusiaan. “Di tengah dunia yang semakin mudah memberi label kepada orang lain, festival ini mengajak kita untuk kembali melihat manusia sebagai manusia. Saya berharap semakin banyak orang datang, menonton, berdiskusi dan merasakan sendiri bagaimana film dapat membuka hati, memperluas perspektif, serta menunjukkan bahwa empati adalah bahasa yang mampu melampaui berbagai perbedaan,” ungkap Hannah, yang juga dikenal sebagai aktivis yang menyuarakan isu-isu kesetaraan, hak asasi manusia, dan pemberdayaan perempuan melalui berbagai kegiatan advokasi maupun karya di industri perfilman.

Sebagai bagian dari perayaan satu dekade, festival juga menghadirkan program baru 100% KISS (Keep It Sassy & Short), sebuah program kurasi khusus bagi film-film pendek berdurasi di bawah 10 menit. Program ini menunjukkan bahwa cerita yang singkat tetap mampu menyampaikan gagasan yang kuat, menggugah emosi, sekaligus menghadirkan perspektif baru mengenai berbagai isu kemanusiaan. Program baru lainnya adalah 100% SEAblings yang menayangkan film-film pendek dari negara-negara di kawasan Asia Tenggara. Selain pemutaran film, masyarakat juga dapat mengikuti berbagai program non-film yang mengajak masyarakat berdialog mengenai kemanusiaan, keberagaman, dan inklusivitas melalui seni, literasi, musik, hingga kegiatan komunitas.
100% Manusia Festival akan berlangsung 6 – 15 Agustus 2026 di Jakarta, Yogyakarta, serta Denpasar. Seluruh rangkaian acara adalah gratis yang berlangsung di 11 venue.
Selama sepuluh hari, festival akan menghadirkan 86 film yang terbagi menjadi 24 film panjang dan 62 film pendek dari 21 negara, di antaranya Austria, Belanda, Filipina, Kamerun, Madagaskar, Meksiko, Myanmar, Nepal, Spanyol, Swedia, dan Vietnam, yang dapat dinikmati secara gratis di 11 venue di Jakarta, Bali, dan Yogyakarta.
Info lengkap Festival: https://100persenmanusia.com/