Drama (Religi) yang Tak Sibuk Menggurui
Judul Seni Merayu Tuhan sekilas terasa segmented. Kesan pertama, filmnya sarat nuansa dakwah, apalagi idenya diangkat dari buku motivasinya Habib Jafar. Namun, asumsi itu tak sepenuhnya benar. Dalam debut sebagai sutradara, setelah lama dikenal sebagai editor, Cesa David Luckmansyah justru menawarkan film dengan pendekatan yang lebih reflektif
Dari skenario Salman Aristo, Gina S. Noer, dan Rino Sarjono, film mengikuti Hikmah (Ari Irham), pemuda yang hilang arah setelah asik dalam dunianya dan menjauh dari Tuhan. Perginya sang ibu (Rieke Diah Pitaloka) menjadi titik balik. Hikmah menyesal dan coba memperbaiki lagi hubungan dengan Tuhannya.
Di sini, Cesa cukup berani bermain-main. Film bergerak lambat dan cenderung slowburn. Pilihan ini memberi ruang untuk mengikuti konflik batin Hikmah, namun kadang justru malah terasa berlarut-larut. Lambatnya tempo bisa berubah menjadi rasa bosan.
Di sisi lain, aspek visual menjadi energi Cesa lantaran terbiasa menjahit bingkai gambar. Sesekali ia keluar dari gaya konvensional lewat gambar yang terasa magis, terutama saat sang ibu hadir dalam mimpi Hikmah. Adegan-adegan itu sungguh mencitrakan konflik batinnya.
Hal menarik, agama di film ini bukan sebagai alat untuk menghakimi. Pesan spiritual memang hadir secara verbal, namun tak lantas menjadi khotbah. Alhasil, penonton non-Muslim masih ada ruang untuk menikmati. Isu yang diangkat pun universal: kehilangan, penyesalan, pencarian makna, dan upaya menemukan kembali arah hidup.
Di titik ini, Seni Merayu Tuhan malah lebih menarik sebagai kisah manusia ketimbang sekadar film religi. Gagasannya segar dan pendekatannya personal, meski eksekusinya belum matang benar. Drama yang kurang tajam dan irama yang tak konsisten terjaga membuat beberapa momen kehilangan daya pukul.
Ya, film ini bukan sekadar kisah hijrah, melainkan perjalanan manusia yang coba berdamai dengan kehilangan dan mencari jalan pulang. Sebuah debut yang menjanjikan, namun masih butuh irama yang lebih kuat agar perenungannya nyaman diikuti.
Skor: 7.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara