Kulari ke Hutan, Kemudian…
Jalan-jalan ke hutan biasanya menyenangkan dan bikin pikiran rileks. Namun dalam Hasut, efeknya malah saling curiga. Lewat debut penyutradaraannya, Ilya Sigma mengajak penonton masuk ke permainan psikologis yang perlahan mengusik kewarasan tokohnya.
Proyek ini menarik karena Ilya bukan nama baru di skena sinema. Belasan tahun lalu, ia bikin omnibus Pintu Harmonika bareng Sigi Wimala dan Luna Maya, serta menulis banyak skenario. Kini bersama Priesnanda Dwisatria, ia bertutur tentang empat anak muda yang dimainkan Rachel Amanda, Karina Salim, Marthino Lio, dan Kevin Ardilova.
Mereka pergi ke hutan untuk menjalani terapi healing. Bukannya beroleh ketenangan, mereka justru mendengar suara aneh dari perangkat HT. Muncul rasa curiga dan perlahan meretakkan hubungan mereka. Masa lalu masing-masing pun hadir, bercampur dengan fantasi yang sulit dibedakan dari kenyataan.
Kendati dilabeli horor, Hasut lebih condong sebagai thriller psikologis. Teror utamanya bukan sosok angker, melainkan permainan nalar yang berujung saling curiga dan saling hasut. Ilya cukup jeli menjaga ketegangan, termasuk memaksimalkan hutan sebagai ruang yang tetap terasa mengancam meski adegan terjadi di siang hari.
Mise en scène adalah kunci. Fotografi Ipung Rahmat Syaiful mendukung atmosfer tersebut lewat penempatan kamera dari sudut tak terduga. Pilihan visual ini menambah rasa paranoid, seolah penonton dipaksa mengintip sesuatu yang belum jelas.
Pun dengan akting para pemain. Kuartet aktornya mampu menunjukkan bagaimana tekanan perlahan menggerus kepercayaan di antara mereka. Namanya juga pelakon kelas festival ya.
Namun, Hasut butuh konsentrasi. Informasi hadir perlahan, sementara batas antara realitas, halusinasi, dan memori sengaja di-blur. Langkah ini memang efektif menjaga misteri, namun di sisi lain bikin penonton sibuk merangkai puzzle ketimbang ikut merasakan kecemasan tokohnya.
Alhasil, misteri yang seyogianya mengikat emosi malah terasa bak teka-teki. Hasut lebih berhasil memaksa penonton bertanya daripada membuat ikut terhasut. Pesan moralnya silakan ikut lieur seperti yang dirasakan para karakternya.
Skor: 6/10 Bintang
review oleh Bobby Batara
Genre Horor tapi lebih ke horor psikologis ya,, alurnya gampang dicerna, endingnya buat sy,, sy suka,, akhinya vira di tinggalin,,
BAGUS BANGETT walau ending nya masih bikin pusingg