Puncak Kejayaan dan Tragedi
K2 adalah gunung tertinggi ke dua di dunia. Pertama tentunya Everest. Namun, yang menjadi menarik, meski tertinggi ke dua, K2 memiliki tantangan tersendiri. Apakah pernah ada yang mencapai puncak K2 ? Tentu pernah dan bukan cerita baru. Menariknya dokumenter ini menyoroti para pendaki profesional yang mendaki K2 namun pada musim dingin. Belum pernah ada yang melakukannya sampai puncak di musim dingin.
Dokumenter ini menyoroti para pendaki profesional yang mengalami kekacauan, persaingan sengit, dan ambisi besar yang terjadi ketika mencoba melakukan pendakian K2 di musim dingin. Kisah ini yang diangkat oleh sutradara Bar-Lev untuk meliput ekspedisi penaklukan K2 hingga puncak di musim dingin untuk pertama kalinya.
Dokumenter diawali oleh beberapa pendaki pengalaman seperti John Snorri asal Islandia, Ali Sadpara dan anaknya Sajid Sadpara asal Pakistan yang mencoba menaklukan K2 di musim dingin. John, Ali, dan Sajid adalah tim pertama yang sampai pada base-camp awal K2 untuk mendaki. Bahkan ketiganya sampai masih pada bulan Desember 2020.
Namun, tak lama kemudian ternyata tak hanya mereka yang datang dan mempunyai tujuan yang sama. Pendaki profesional legendaris lainnya seperti Nirmal Purja (Nimsdai) bersama tim Nepal yang berjumlah 10 orang meramaikan tempat untuk pendakian tersebut.
Kagetnya, ternyata K2 tiba-tiba menjadi ramai. Rombongan dari Seven Summits juga tiba di base-camp. Seven Summits adalah ekspedisi komersial yang membawa pendaki untuk ikut juga menaklukan K2 di musim dingin.
Aura persaingan mau tak mau menjadi terasa meski tak langsung. Meski semuanya pendaki profesional, namun ada keinginan menjadi yang pendaki pertama yang tercatat menaklukan puncak K2 di musim dingin.
Dokumenter lalu berlangsung bagaimana Tim Nepal mencoba menaiki puncak hingga juga bagaimana John Snorjee dan pendaki lainnya mencoba mencapai puncak. Siapa yang meraih kejayaan dan siapa yang akhirnya mengalami tragedi terangkum selama 1 Jam 38 Menit.
Dokumenter ini tidak tampil untuk menyajikan kejayaan para pendaki untuk pencapaian rekor. Dokumenter ini tidak fokus pada sisi romantisme petualangan pendaki dunia yang mencoba menaklukan K2. Dokumenter ini secara jeli berhasil memberikan kepada penonton bahaya yang menantang, ego yang terjadi dari sudut pandang para pelaku pada peristiwa tersebut, batasan fisik manusia, serta juga menyoroti tajam komersialisasi pendakian yang dilakukan.
Dokumenter berhasil menyajikan klimaks kisah ketika para pendaki sampai di Pos 3 dengan segala kekurangan yang bisa dibilang menjadi salah-satu tafsir bebas dari tiap yang menonton. Apakah peristiwa di Pos 3 ini menjadi sumber kekacauan utama ataukah memang sudah menjadi suratan takdir tanpa kejadian di Pos 3.
Dari sisi sinematografi, gambar-gambar di ketinggian dengan suhu ekstreme menghadirkan pengalaman visual yang sangat mencekam. Penonton disuguhkan kontras antara keindahan lanskap es yang megah dengan bahaya yang sangat mematikan bagi para pendaki.
Dokumenter ini bukan sekadar rekam jejak visual atas keberhasilan manusia menembus benteng terakhir pendakian musim dingin ataupun tragedi yang terjadi. Justru dokumenter ini sebuah potret jujur dan reflektif tentang harga mahal di balik sebuah obsesi.
Dengan menyeimbangkan selebrasi kemenangan tim Nepal dan tragedi memilukan yang menyertainya, sutradara berhasil menghadirkan dokumenter yang mencekam, kaya akan kritik sosial, serta menggugah nurani. Pada akhirnya, film ini menjadi pengingat yang kuat bahwa di hadapan kebuasan alam K2, ambisi, ego, dan popularitas tak pernah lebih berharga daripada keselamatan serta penghormatan terhadap sesama pendaki.
Skor: 7.5/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh