Rideo Ergo Sum
Mantan Perdana Menteri Inggris Sir Winston Churchill pernah bilang, “Dalam politik, Anda bisa mati berkali-kali.” Sementara itu, film Bapak Paling Jujur karya Fajar Nugros seolah merevisi kalimat itu: dalam komedi politik, penonton bisa tertawa berkali-kali. Rideo ergo sum. Aku tertawa maka aku ada.
Film ini adaptasi dari sinema Brasil O Candidato Honesto (2014) karya Roberto Santucci. Jika versi aslinya mengangkat isu suksesi presiden, Nugros memindahkan latarnya ke pemilihan gubernur di Indonesia dengan sentuhan satir dan bumbu slapstick.
Cerita berfokus pada Jonas Prakoso (Andovi da Lopez), politisi yang jago pencitraan demi ambisi menjadi gubernur. Hidupnya berubah setelah terkena kutukan neneknya yang membuatnya tak bisa bohong. Sejak itu, mulutnya bak kehilangan rem. Isi pikirannya tumpah tanpa filter, tak ada lagi rahasia.
Penulis skenario Rino Sarjono tak kesulitan melokalkan kisah politisi Brasil ini. Kondisi politik kedua negara memang 11-12. Polah politisi negeri Konoha menyuplai banyak bahan untuk diparodikan. Aneka polah mereka menjadi set-up yang akrab di benak penonton.
Dari sisi pemain, Nugros memasang sederet komika dengan persona unik. Soleh Solihun, Benedictus Siregar, hingga David Nurbianto ikut memberi warna. Rizki M. Firman, yang dikenal lewat tiruan sosok Rocky Gerung, juga tampil menggelitik sebagai politisi papan atas.
Gagasan tentang orang yang mendadak tak bisa berbohong mengingatkan pada Liar Liar (1997), yang memasang komedian Jim Carrey. Inilah tantangan terbesarnya: membuat kutukan kejujuran terasa lucu sekaligus meyakinkan. Berhasilkah?
Sayangnya, kemampuan komedi Andovi jauh di bawah Carrey. Ia belum punya keluwesan dan ekspresi liar seperti Carrey. Alhasil, Jonas belum sepenuhnya meyakinkan sebagai politisi yang tak hanya mengundang tawa, tapi juga mampu membuat chaos akibat ucapannya sendiri terasa kocak dan masuk akal.
Film ini punya modal satir politik yang dekat dengan kehidupan dengan dukungan para komedian. Namun semua belum cukup untuk menghasilkan komedi yang kuat. Aktor utamanya belum mampu untuk menghidupkan situasi, sehingga banyak potensi kelucuan justru tidak maksimal.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara