Film yang mengangkat tema superhero memang memiliki sisi yang menarik. Cerita tentang kepahlawanan yang digambarkan, penyelamat umat manusia, menjadi daya tarik tersendiri. Namun sadarkah kita, bahwa meskipun film superhero identik dengan cerita fiksi yang dipandang cocok untuk anak-anak, ternyata tidaklah selalu tepat.
Katakanlah film Spider-man, Batman, atau bahkan cerita-cerita yang diangkat dari Marvels Universe atau bahkan Disney yang katanya identik dengan imajinasi anak-anak, justru menampilkan adegan yang seringkali kurang tepat ditonton anak-anak hingga usia remaja. Film-film di atas sejatinya tidak layak ditonton anak-anak usia di bawah 13 tahun.
Namun apalah daya, anak-anak di bawah usia tersebut mengikuti selera tontonan orang-tuanya yang mengajak ke bioskop. Mirisnya, orangtua yang harusnya menjadi pintu pertama dan memberikan pengertian kepada anak tidak melakukannya dengan baik.
Hal ini menjadi salah satu fokus pembahasan dalam Diskusi Film Anak Indonesia yang digelar sebagai bagian dari rangkaian Kreatif Merdeka Carnival 2026 – Pekan Diskusi Film Indonesia yang diselenggarakan PT Avatara Lintas Media. Acara ini berlangsung pada Senin (10/8) sore, di PFN Heritage, Jalan Otista Raya No. 125–127, Jakarta Timur.
Indrayanto Kurniawan selaku Produser film sekaligus Ketua Umum KFT Indonesia, melihat kualitas film anak setidaknya harus memiliki dua aspek penting, yakni story-telling dan teknologi. Dari sisi cerita, film anak tidak cukup hanya menghadirkan pesan moral atau nilai pendidikan. Narasi juga harus mampu berhubungan dengan kehidupan dan cara berpikir anak-anak masa kini.

Menurutnya, pembuat film perlu memahami bagaimana berkomunikasi dengan anak tanpa menghadirkan jarak generasi. Ia mengibaratkannya seperti konsep baby talk, yakni komunikasi yang benar-benar menggunakan cara pandang dan bahasa yang dekat dengan dunia anak. Bukan film yang menampilkan orang dewasa dengan masalah yang rumit di dalamnya.
Dengan pendekatan tersebut, cerita diharapkan tidak terasa seperti orang dewasa yang sedang menggurui anak. Sebaliknya, film dapat menjadi ruang yang benar-benar berbicara kepada mereka melalui konflik, karakter, humor, maupun situasi yang relevan dengan keseharian.
Selain cerita, perkembangan teknologi juga menjadi tantangan besar bagi filmmaker film anak di Indonesia. Anak-anak saat ini tumbuh bersama berbagai perangkat dan platform digital, mulai dari media sosial, gim, televisi, hingga layanan over-the-top (OTT).
Kondisi itu membuat standar visual dan pengalaman menonton mereka turut berkembang. Karena itu, teknologi dalam produksi film anak dinilai perlu terus diperbarui agar mampu mengikuti perkembangan zaman.
“Dari sisi storytelling harus ter-upgrade, dari sisi teknologi harus ter-updated.” jelas Indrayanto Kurniawan.
Acara Diskusi Film Anak Nasional juga mengundang narasumber lainnya seperti Fauzan Zidni yang merupakan Ketum BPI, Upie Guava sutradara film anak Pelangi di Mars, serta Aditya Gumas yang juga sutradara dan pemilik Sanggar Ananda. Acara diskusi dipandu oleh Mario Tetelepta yang berlangsung selama kurang lebih 3 jam.