Film Pengkhianatan Penumpasan G 30 S PKI besutan sutradara Arifin C. Noer tayang pada tahun 1985. Film ini mengisahkan salah satu sejarah kelam perjalanan Indonesia yang terjadi pada malam 30 September 1965. Peristiwa merenggut nawa 7 Jendral Angkatan Darat.
Peristiwa ini juga menjadi efek domino berakhirnya kepemimpinan Soekarno dan ditandai dari mulainya rezim otoriter Orde-Baru. Peristiwa dari 30 September 1965 ini diangkat dalam film yang berjudul Pengkhiatan Penumpasan G 30 S PKI.
Film ini semenjak tayang akhirnya menjadi film wajib yang diputar di stasiun televisi tiap tahunnya hingga berhenti ditayangkan ketika Soeharto turun pada tahun 1998.
Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI pada saat pembuatannya didukung penuh oleh dana pemerintah Orde Baru melalui Pusat Produksi Film Negara (PPFN).
Film ini berkiblat pada buku kontroversial terbitan 1968 susunan Nugroho Notosusanto dan Ismael Saleh.
Sementara sejak Orde-Baru tumbang pada 21 Mei 1998, banyak pihak yang menyangsikan bahwa film ini menggambarkan peristiwa sebenarnya.
Didasari banyaknya kejanggalan isi dalam film yang dilebih-lebihkan atau lebih berpihak untuk mengangungkan Soeharto dan Orde-Baru. Dilansir dari detik.com, sejarawan Bonnie Triyana mengatakan bahwa film ini adalah propaganda orde-baru. bukanlah film sejarah.
Selain itu, adegan-adegan dalam film juga dianggap banyak mengundang kontroversi dari sejarah sebenarnya. Adegan dalam film memperlihatkan penyiksaan brutal terhadap para Jendral saat di Lubang Buaya yang ternyata fiktif.
Karena dokumen forensik (visum et empertum) otopsi resmi tahun 1965 menyebutkan kematian para jendral adalah luka tembak saja. Tak ada bukti siksaan. Plus ditambah kesaksian ahli forensik Prof. Arief Budianto tak ada bukti pencongkelan mata para Jendral seperti yang ada dalam film.
Selain itu, dilansir dari suara.com bahwa adegan Gerwani dan Pemuda Rakyat yang menari erotis sembari menyiksa para Jendral juga tak pernah ada. Karena dalam peradilan maupun catatan resmi hal tersebut tak pernah ada. Narasi penggambaran Soeharto sebagai satu-satunya penyelamat dalam dalam film ini juga banyak dikritisi oleh sejarawan dan tokoh lainnya.
Dr. Asvi Warman Adam (Sejarawan Utama LIPI/BRIN) dalam berbagai karya tulis riset dan analisis mengkritik film tersebut mengonstruksi mitos kepahlawanan Soeharto. Asvi menyoroti penulisan naskah (yang mengacu pada buku Nugroho Notosusanto) secara sengaja menempatkan Soeharto di pusat narasi penyelamatan negara sambil mengerdilkan peran tokoh sejarah lain.
Film ini lalu wajib tayang di saluran TV Pemerintah (TVRI) dan juga televisi swasta selama Orde-Baru berkuasa. Film ini berakhir ditayangkan di seluruh stasiun televisi pada tahun September 1998. Yunus Yosfiah sebagai Menteri Penerangan saat tahun 1998 membatalkan kewajiban pemutaran film ini pasca reformasi. Meskipun sejak itu, beberapa TV swasta masih kadang menayangkannya pada momen 30 September tiap tahunnya hingga kini.
Film Penumpasan Pengkhianatan G 30 S PKI dibuat dengan anggaran 800 juta rupiah. Anggaran yang cukup besar pada saat itu.