Cosplayer in Love
Ada fenomena unik di kota Bandung. Sejumlah orang berkostum hantu turun ke jalan. Fenomena itu mengusik sineas Tubagus Deddy. Siapa orang-orang di balik busana seram itu? Pasti mereka punya cerita. Dari sanalah lahir gagasan film Conjurig.
Judulnya meminjam bunyi dari film horor Hollywood The Conjuring. Namun, Deddy membesut filmnya sebagai komedi romantis. Ceritanya terinspirasi dari Comjurig, komunitas cosplayer hantu di Bandung.
Adalah Piit (Dito Darmawan), warga Bandung yang baru resign dari kantornya di Jakarta. Apesnya, hubungan cintanya ikut kandas. Ah, korban PHK dan putus cinta karena soal ekonomi rasanya cukup familiar ya?
Demi mengobati luka, Piit turun ke jalan dengan berkostum pocong. Di sana ia bertemu Tami (Maizura), cosplayer gothic style yang misterius. Pertemuan ini membuka jalan baru yang mengubah nasib Piit.
Modal premisnya menarik. Deddy tak hanya menawarkan cosplayer sebagai gimmick, namun coba melihat manusia di balik kostumnya. Di balik sosok seram itu, ternyata mereka juga manusia biasa dengan segala problemnya.
Latar Bandung juga memberi warna unik. Humornya terasa khas, termasuk dialek Sunda yang terasa bak makian, meski sebenarnya bukan. Tingkah para cosplayer hantu pun menjadi sumber kelakar yang bikin film ini tak selalu serius menghadapi persoalan Piit.
Namun, saat masuk paruh akhir cerita, Conjurig mengandalkan faktor kebetulan. Situasi yang seharusnya menjadi konsekuensi dari pilihan dan perjuangan Piit malah kelar oleh kondisi yang datang pada waktu yang pas. Kebetulan memang bisa menjadi alat komedi, namun jika terlalu sering dipakai, usaha si karakter terasa kurang bermakna.
Alhasil, nasib Piit seolah diselamatkan oleh skenario, bukan semata-mata oleh perkembangan karakter dan keputusan yang diambilnya. Padahal, gagasan tentang para cosplayer hantu punya ruang cukup besar untuk membawa cerita yang lebih kuat dan personal.
Namun Conjurig tetap menawarkan ide segar dari maraknya fenomena cosplayer. Sayangnya, perjalanan Piit menuju solusi akan terasa lebih kuat jika dibangun lewat usaha dan konsekuensi yang jelas, bukan sekadar mengandalkan kebetulan yang terasa klise.
Skor: 7/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara