Blair Witch Project Era Kekinian
Pada 1999, kehadiran The Blair Witch Project sungguh menghentak pecinta film horor. Hanya dengan kamera video, teror yang disodorkan terasa nyata betul. Sukses box office-nya lalu melahirkan subgenre baru: found footage yang awet ditiru hingga saat ini.
Di barisan pengekor itu ada Gonjiam: Haunted Asylum dari Korea Selatan yang sukses di bioskop. Faktor ini bikin MD Pictures mengajak sineas Anggy Umbara untuk bikin remakenya. Judulnya 402 Rumah Sakit Angker Korea.
Versi lokalnya pun tak sekadar copy paste. Skenario Lele Leila punya banyak ruang untuk memodifikasi ceritanya. Hasilnya terasa lebih segar dan ada kebaruan berkat sentuhan kearifan lokal.
Kisahnya tentang kreator konten asal Indonesia datang ke Korea demi membuat konten di sebuah rumah sakit terlantar. Atas nama mengejar viral, mereka terjebak dalam teror penghuni gaib yang ada di sana.
Ya, nuansa lokal itulah nilai tambahnya. Seperti target 3 juta viewer yang ada dalam dialog, terasa ejekan buat industri film. Juga dengan boneka jelangkung yang jadi medium pemanggil arwah, komplet dengan mantra yang dibikin versi bahasa Korea. Sungguh detail-detail kecil yang menarik.
Secara teknis, Anggy Umbara memang serius banget. Jika The Blair Witch Project hanya mengandalkan dua kamera dan Gonjiam memakai hingga 19 kamera, 402 merekam adegan dengan 28 kamera dan sebagian dipasang di tubuh para pemain. Pendekatan ini membuat perspektif visual lebih beragam dan memperkuat sensasi teror.
Segi cerita filmnya sih masih ikut pakem khas found footage. Alurnya mudah ditebak: klise dan nasib karakternya tak ada kejutan. Kekuatan filmnya memang bukan pada cerita, tetapi pada sensasi pengalaman menonton. Tata gambar ciamik dan penggunaan begitu banyak kamera menjadi jualannya.
Sayangnya, tensi tinggi itu tak selalu sekonsisten kualitas teknisnya. Teror yang berulang bikin filmnya mudah ditebak. Alhasil, 402 Rumah Sakit Angker Korea lebih menonjol sebagai pencapaian teknis dalam genre found footage, ketimbang film horor yang menakut-nakuti penonton.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara