Film Kolosal Ambisius tentang Kekuasaan, Ambisi, dan Sejarah Dunia
8/10
Ditulis oleh: Messa Prameswari
Pendahuluan
Film Alexander karya Oliver Stone merupakan salah satu film kolosal paling ambisius pada era awal 2000-an. Film ini mencoba menggambarkan kehidupan Alexander the Great, raja Macedonia yang dikenal sebagai salah satu penakluk terbesar dalam sejarah dunia. Dengan skala produksi besar, peperangan masif, serta pendekatan psikologis yang cukup mendalam, Alexander tidak hanya hadir sebagai film perang, tetapi juga sebagai drama tentang ambisi, kekuasaan, dan pencarian identitas.
Hubungan Film dan Sejarah
Salah satu hal paling menarik dari film Alexander adalah bagaimana Oliver Stone mencoba menghadirkan Alexander bukan hanya sebagai sosok legenda, tetapi juga sebagai manusia yang memiliki ketakutan, ego, dan obsesi besar terhadap kejayaan. Dalam sejarah asli, Alexander III dari Macedonia lahir pada tahun 356 SM dan merupakan anak dari Raja Philip II dan Olympias. Sejak muda ia dikenal sangat cerdas dan mendapat pendidikan langsung dari filsuf terkenal Aristoteles. Film ini cukup berhasil memperlihatkan bagaimana pendidikan, politik keluarga, dan tekanan dari orang tuanya membentuk karakter Alexander.
Dalam sejarah, Philip II dikenal sebagai pemimpin militer yang sangat kuat dan berhasil membangun Macedonia menjadi kerajaan besar sebelum diteruskan oleh Alexander. Film menggambarkan hubungan Alexander dan ayahnya dengan cukup keras dan penuh konflik. Hal ini memang memiliki dasar sejarah karena Alexander tumbuh di lingkungan politik yang penuh intrik. Ibunya, Olympias, juga dikenal sebagai sosok yang sangat berpengaruh dalam hidupnya. Film memperlihatkan Olympias sebagai wanita manipulatif dan misterius, dan meskipun penggambarannya terasa dramatis, banyak catatan sejarah memang menyebut bahwa ia memiliki pengaruh besar terhadap ambisi Alexander.
Setelah kematian Philip II, Alexander naik takhta pada usia muda dan mulai melakukan ekspansi besar-besaran. Film mengikuti perjalanan penaklukannya terhadap Kekaisaran Persia yang dipimpin Darius III. Dalam sejarah asli, kemenangan Alexander dalam Battle of Gaugamela menjadi salah satu strategi perang paling terkenal sepanjang masa. Film mencoba merekonstruksi perang ini dengan cukup detail, terutama penggunaan formasi pasukan Macedonia dan pergerakan kavaleri. Adegan peperangan di film memang dibuat lebih dramatis untuk kebutuhan sinematik, tetapi secara umum masih mengikuti gambaran sejarah.
Hal lain yang cukup akurat adalah bagaimana film menggambarkan ambisi Alexander untuk menyatukan budaya Timur dan Barat. Dalam sejarah, Alexander tidak hanya ingin menaklukkan wilayah baru, tetapi juga mencoba menggabungkan budaya Yunani dan Persia. Ia bahkan mengadopsi beberapa tradisi Persia dan mendorong pernikahan campuran antara tentaranya dengan wanita lokal. Kebijakan ini membuat banyak pasukan Macedonia merasa kecewa karena mereka menganggap Alexander mulai meninggalkan identitas asalnya. Konflik tersebut juga diperlihatkan dalam film.

Film ini juga cukup berani membahas hubungan emosional Alexander dengan Hephaestion. Banyak sejarawan percaya bahwa hubungan mereka jauh lebih dekat daripada sekadar persahabatan biasa. Oliver Stone tidak menampilkan hal ini secara berlebihan, tetapi cukup jelas memperlihatkan kedekatan emosional mereka. Untuk ukuran film Hollywood pada tahun 2004, pendekatan ini termasuk cukup berani.
Namun tentu saja ada beberapa bagian yang disederhanakan. Timeline sejarah dalam film dibuat lebih singkat agar cerita tetap mudah diikuti penonton. Beberapa tokoh penting dalam sejarah juga tidak mendapat porsi besar. Selain itu, karakter Alexander di film kadang terasa terlalu emosional dibanding catatan sejarah yang lebih menggambarkannya sebagai pemimpin strategis dan visioner. Meski begitu, Oliver Stone tampaknya memang ingin memperlihatkan sisi manusiawi dari seorang penakluk dunia, bukan hanya menjadikannya tokoh heroik tanpa kelemahan.
Pada akhirnya, Alexander berhasil menjadi salah satu film sejarah Hollywood yang cukup serius dalam mendekati fakta sejarah. Meskipun tetap ada dramatisasi, film ini memperlihatkan usaha besar untuk menghadirkan nuansa politik, budaya, dan peperangan di dunia kuno secara lebih realistis dibanding banyak film kolosal lain pada masanya.
Sinematografi & Visual Film
Secara visual, Alexander merupakan film yang sangat megah. Oliver Stone menggunakan tone warna emas, cokelat, dan gurun yang memberi kesan dunia kuno terasa hidup. Adegan perang dibuat dengan skala sangat besar dan kamera sering bergerak dinamis mengikuti pasukan berkuda maupun pertempuran jarak dekat. Battle of Gaugamela menjadi salah satu adegan paling ikonik karena berhasil menghadirkan kekacauan perang dalam skala besar namun tetap terasa artistik.
Berbeda dengan film kolosal lain seperti Gladiator atau Troy yang lebih heroik dan mudah dinikmati, Alexander memiliki nuansa visual yang lebih gelap dan serius. Film ini lebih fokus pada psikologi karakter dibanding sekadar kemenangan perang. Musik karya Vangelis juga memperkuat atmosfer megah sekaligus melankolis, seolah menggambarkan bahwa kejayaan Alexander selalu dibayangi kesepian dan tekanan besar.
Alexander Sebagai Film Kolosal pada masanya
Pada era awal 2000-an, Hollywood sedang mengalami kebangkitan genre film sejarah dan kolosal setelah kesuksesan Gladiator. Alexander hadir sebagai salah satu proyek paling ambisius dengan biaya produksi besar, jajaran aktor terkenal, dan lokasi syuting yang luas. Namun dibanding film perang lain pada masanya, Alexander terasa jauh lebih politis dan filosofis.
Banyak penonton saat itu menganggap film ini terlalu panjang dan berat karena dipenuhi dialog tentang politik, kekuasaan, dan identitas. Akan tetapi seiring waktu, banyak kritikus mulai melihat Alexander sebagai film yang underrated karena keberaniannya membahas sisi manusia dari seorang penakluk legendaris.
Penampilan Para Pemeran Film Alexander
Colin Farrell:Â Sebagai Alexander, Colin Farrell mencoba menghadirkan sosok pemimpin muda yang ambisius namun rapuh secara emosional. Ia tidak memainkan Alexander sebagai pahlawan sempurna, melainkan sebagai manusia yang terus terobsesi mengejar kejayaan.
Angelina Jolie: Angelina Jolie tampil sangat mencolok sebagai Olympias. Karakternya penuh misteri, manipulatif, dan emosional. Penampilannya menjadi salah satu elemen paling kuat dalam film.
Jared Leto: Jared Leto sebagai Hephaestion menghadirkan sisi emosional yang lebih tenang. Hubungannya dengan Alexander menjadi salah satu inti emosional cerita.
Rosario Dawson: Rosario Dawson tampil penuh karisma sebagai Roxana dan memberikan energi berbeda dalam dinamika kehidupan pribadi Alexander.

Alexander bukan film kolosal yang ringan untuk ditonton, tetapi justru di situlah kekuatannya. Film ini mencoba menggabungkan drama psikologis, peperangan besar, dan sejarah dunia kuno dalam satu cerita yang ambisius. Meskipun tidak sepenuhnya akurat secara sejarah, Alexander tetap menjadi salah satu film Hollywood yang cukup serius dalam mengangkat kisah Alexander the Great. Dari sisi sinematografi, skala produksi, hingga penampilan para aktornya, film ini masih terasa megah bahkan bertahun-tahun setelah perilisannya.
Dengan segala kelebihan dan kekurangannya, Alexander layak mendapatkan nilai 8/10 karena keberaniannya menghadirkan film sejarah yang tidak hanya fokus pada aksi peperangan, tetapi juga sisi emosional dan politik dari tokoh legendaris dunia.