Drama Keluarga yang Menggugat Sistem Patriarki
Dalam masyarakat dengan sistem patriarki, laki-laki adalah subyek pelindung dan perempuan obyek yang dilindungi. Maka laki-laki harus kuat agar mampu menjadi pelindung, sementara perempuan sebaliknya: ia tidak boleh kuat, karena akan ada yang melindungi. Sebagai pelindung yang kuat laki-laki menjadi berhak mengatur perempuan. Sebaliknya perempuan kudu rela diatur laki-laki setinggi apa pun jabatannya atau sepintar apa pun otaknya. Pola ini kemudian dilembagakan melalui pernikahan.
Dari sanalah berkembang anggapan bahwa pernikahan adalah satu-satunya jalan keluar bagi setiap persoalan seorang perempuan: mendapatkan kebahagiaan dan perlindungan ekonomi. Dengan menjadi seorang istri seolah seluruh permasalahan selesai. Padahal dalam banyak kasus pernikahan adalah penjara dan perbudakan yang dilegalkan. Masyarakat patriarkis menganggap kekerasan yang dilakukan laki-laki terhadap perempuan sebagai sesuatu yang normal demi menjaga kehormatan perempuan. Perempuan dianggap tidak bisa memanggul kehormatannya sendiri.
Inilah kiranya salah satu isu yang coba disuarakan oleh “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah”, film kedelapan besutan Kuntz Agus. Diceritakan Wulan (She Ine Febriyanti) menjadi ibu sekaligus ayah bagi tiga orang anak perempuannya, yaitu Anis (Eva Celia), Alin (Amanda Rawles) dan Asya (Nayla Denny). Wulan kerja banting tulang mengurus usaha laundri demi membiayai operasional rumah tangga sehari-hari; sementara suaminya, Tio (Bucek Depp), pulang ke rumah hanya untuk makan, tidur, ngopi, dan berak. Tanggung jawab menafkahi keluarga jatuh ke tangan Wulan sepenuhnya.
Wulan mendapat kekerasan berlapis, yaitu beban tanggung jawab seorang diri dan perlakuan kasar dari suami yang seharusnya menjadi partner hidupnya. Berkaca dari nasib ibunya, Alin bertekad kuat untuk menjadi perempuan tangguh agar bisa melindungi dirinya sendiri. Dia tidak mau terjebak dalam penjara pernikahan. “Tidak semua perempuan menginginkan payung. Ada yang memilih berjalan di bawah hujan” kata Alin kepada Irfan (Indian Akbar), pacarnya, yang membujuk Alin menikah dengannnya.
Cerita film ini sebenarnya sering diangkat dalam FTV. Bedanya dalam penggarapan film ini serius. Setiap karakternya digarap dengan matang, motif setiap tindakan karakternya diperhitungkan dengan lumayan teliti. Semua digarap dengan porsi yang tidak berlebihan dan tidak pula kurang. Tidak mengumbar kesedihan. Hanya saja, untuk menunjukkan perhatian kepada ibu, film ini masih menggunakan cara yang klise, merayakan ulang tahun ibu.
Selain itu, topik yang diketengahkan film ini masih sangat relevan dengan kondisi sosial masyarakat kita yang masih kuat dicengkeram budaya patriarki. Bahkan dalam titik tertentu sangat krusial untuk terus digemakan. Kuntz Agus dengan mulus menggugat sistem patriarki tanpa harus brisik dan penuh teriakan, juga tidak dengan meratap-ratap. Melainkan melalui alur yang masuk akal, konflik yang wajar, dan akting para pemainnya yang mengesankan. Amanda Rawles dan Eva Celia mampu mengimbangi akting Ine Febrianti yang makin matang. Chemistry mereka sebagai anak dan ibu begitu kuat. Sebagai penonton kita simpati terhadap Wulan dan anak-anaknya. Sebaliknya kita merasa muak dan geram terhadap kelakuan Tio.