Drama Keluarga yang Menyimpan Kejutan
Seorang suami dan ayah idealnya menjadi penuntun bagi istri dan anak-anaknya. Ia adalah nahkoda yang menentukan ke mana arah sebuah keluarga berlayar. Namun, bagaimana jika seorang ayah justru kehilangan kemampuan menjalankan peran tersebut? Pertanyaan itulah yang menjadi premis utama film “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?” karya sutradara Kuntz Agus.
Film dibuka dengan narasi Dira (Mawar De Jongh), anak sulung yang menjadi sudut pandang cerita. Melalui suaranya, penonton diajak memahami kehilangan yang paradoksal: kehilangan sosok ayah yang sebenarnya masih tinggal serumah. Keluarga ini terdiri atas seorang ibu (Unique Priscilla) yang tangguh menghidupi keluarga lewat usaha warung soto, seorang ayah (Dwi Sasono) yang lebih sering terdiam dengan tatapan kosong, serta Darin (Rey Bong), adik Dira. Sosok ayah digambarkan begitu pasif dan rapuh hingga sering kali memancing rasa kesal penonton.
Dira dan Darin merasa tidak memiliki hubungan emosional dengan ayah mereka. Sang ayah hadir secara fisik, tetapi absen secara batin. Mereka hidup dalam satu rumah, namun tidak benar-benar terhubung, ibarat telepon seluler yang kehilangan sinyal. Pola relasi ayah dan anak dalam film ini mengingatkan pada karya Kuntz Agus sebelumnya, “Andai Ibu Tidak Menikah dengan Ayah” (2025). Bedanya, ayah dalam film tersebut terlalu percaya diri menjalankan otoritasnya, sementara ayah dalam “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?” adalah sosok yang kehilangan kepercayaan diri bahkan di hadapan istri dan anak-anaknya sendiri.
Dibanding film sebelumnya, cerita dalam film ini terasa lebih berlapis. Kuntz Agus menghadirkan sejumlah kejutan yang cukup efektif dan tidak mudah ditebak. Melalui percakapan antara Dira dan ibunya, penonton mengetahui masa lalu sang ayah: berasal dari keluarga dengan status sosial lebih rendah dibanding istrinya dan telah menjadi yatim sejak usia enam tahun.
“Jadi ayah tidak tahu bagaimana menjadi ayah yang baik,” ujar sang ibu, membela suaminya sekaligus meminta anak-anaknya mencoba memahami keterbatasan yang dimilikinya.
Kuntz Agus cukup berhasil menempatkan penonton pada posisi Dira. Karena itu, empati terhadap Dira maupun Darin tumbuh secara alami. Keduanya memiliki kualitas yang membuat penonton mudah bersimpati, dan faktor inilah yang tampaknya menjadi salah satu kekuatan utama film ini dalam menjangkau audiens yang luas.
Menjelang akhir film, penonton kembali disuguhi kejutan yang mengubah cara pandang terhadap sang ayah. Momen tersebut memunculkan kesadaran bahwa sosok yang selama ini terlihat lemah dan gagal ternyata menyimpan sisi lain yang tidak pernah diketahui keluarganya.
Secara keseluruhan, “Ayah, Ini Arahnya Kemana, Ya?” merupakan drama keluarga yang menarik dengan fondasi emosi yang kuat serta beberapa lapis plot twist yang efektif. Meski demikian, ada sejumlah adegan yang terasa kurang tergali secara maksimal, seperti saat ibu dan Dira mendapati Darin terlibat tawuran di jalan atau ketika Dira menolak bantuan sang pacar untuk memperoleh pekerjaan. Dengan pendalaman yang lebih kuat pada beberapa momen tersebut, dampak emosional film ini berpotensi menjadi lebih besar.
Skor: 7/10 Bintang
review oleh Aris Kurniawan