When Abi Met Sita
Pernah punya bayangan bagaimana jika kakek dan nenek kita ternyata masih punya kisah cinta yang belum kelar? Premis itulah yang diangkat Cinta Lama Babak Kedua, film arahan Ivander Tedjasukmana. Romansanya unik banget, sudut pandang yang jarang diangkat sineas kita. Alih-alih membahas pasangan muda, Ivander malah menyodorkan kisah asmara generasi sepuh sebagai fokusnya.
Cerita berawal dari pasangan Raka (Iskak Khivano) dan Ambar (Sintya Marisca), yang siap menikah. Namun, rencana itu mendadak buyar saat kedua keluarga bertemu. Pasalnya, Nin Sita (Widyawati), nenek Raka, dan Akung Abi (Slamet Rahardjo), kakek Ambar, ternyata pernah jadian di masa lalu. Pertemuan itu membuka lagi luka lama yang belum sembuh benar.
Konflik berkembang ketika Ambar coba membujuk Abi agar minta maaf kepada Sita. Ternyata perasaan yang pernah hadir tak selalu hilang seiring waktu. Relasi Raka dan Ambar akhirnya hanya sebatas jembatan yang mempertemukan kembali dua hati yang pernah terpaut, alih-alih sebagai fokus utama cerita.
Pilihan fokus itulah yang membuat film ini terasa unik. Romansa paruh baya menjadi tema yang jarang diangkat di sinema kita, apalagi dalam balutan komedi romantis. Padahal, yang namanya rasa cinta dan penyesalan tak kenal usia.
Kekuatan tema itu ditopang oleh akting dua aktor seniornya. Slamet Rahardjo dan Widyawati tampil dengan chemistry yang hangat dan mengundang senyum. Di usia matang, tingkah mereka masih bikin gemas. Tak pelak, tektokan keduanya menjadi kekuatan utama yang membuat film ini lebih bernyawa.
Sebagai sebuah romcom, film ini angin segar di tengah dominasi genre horor dan drama keluarga yang menguras air mata. Humornya ringan, namun porsi emosionalnya menjadi fondasi yang menarik. Penonton bisa tertawa sekaligus memahami bahwa tak semua kisah cinta harus berakhir dengan memiliki.
Alhasil, film CLBK bukan sekadar kisah cinta lama yang bersemi kembali. Film ini mengingatkan bahwa setiap orang, termasuk kaum usia senja, tetap punya ruang untuk mengenang, memaafkan, dan menuntaskan perasaan yang pernah ada. Pesan moralnya sederhana: cinta memang tak pernah kenal batas usia.
Skor: 7/10
review oleh Bobby Batara