Si Dilan Anak Sekolahan (Ganesha)
Semesta Dilan kembali lagi. Kini setting-nya circa 1996–1998, Dilan sudah jadi mahasiswa kampus Ganesha, tepatnya FSRD ITB. Sebuah masa ketika hawa Reformasi memanas. Si Dilan ngapain aja ya di instalmen Dilan ITB 1997 ini?
Versi mahasiswa diperankan Ariel Noah. Kontan, reaksi netizen pun riuh. Ada yang bilang, “Si Boril mah leuwih pantes jadi dekan atawa mahasiswa kelas karyawan, beungeutna kolot euy.” Tapi teu kitu-kitu teuing sih. Nazril Irham punya irisan yang sama dengan penulis Pidi Baiq, sama-sama urang Bandung, anak skena, ngomongna Sunda pisan, jeung loba gaya. Vibenya pas pisan, meskipun fisik kurang meyakinkan. Tapi okelah, hayu move on sejenak.
Ceritanya di paruh akhir 1990-an, Dilan mulai mencoba hidup sebagai seniman freelance. Hubungan dengan Ancika (Niken Anjani) makin serius. Drama dimulai dengan kehadiran sang mantan, Milea (Raline Shah). Dilan mulai ragu-ragu Icuk: pilih masa lalu atau masa depan? Premis yang mengulang pola lama: cinta segitiga.

Duet sutradara Pidi Baiq dan Fajar Bustomi mengemas filmnya dengan gaya santuy. Karisma Ariel dihadirkan sebagai cowok cuek, ceplas-ceplos, tapi tetap kritis, penuh pesona. Dilan masih keneh legeg (banyak tingkah), namun lebih mature termasuk dalam wacana politik. Ocehannya banyak mengena, tapi da kadang garing oge sih.
Buat penonton yang pernah mengalami eranya, Dilan 1997 membawa kenangan masa bobogohan. Di atas motor Honda CB 100, Dilan nguriling kota Bandung sembari mengumbar sejuta jurus gombal. Eh tapi lain gombal oge, cintanya buat Ancika serius yeuh. Pokonamah Dilan bisa wae nyieun momen jadi kasuat-suat (teringat-ingat).
Cinta segitiga masih jadi resep andalan Pidi, yang kali ini diolah oleh pasangan Aditya Mulya dan Ninit Yunita jadi skenario yang enteng. Munculnya Milea atau Hana sekadar mampir. Karakter mereka tak selalu punya ruang buat berkembang, alhasil dramanya terasa dangkal dan mudah ditebak.
Menikmati Dilan ITB 1997 bakal repot buat cari logikanya. Filmnya terlalu nyaman di zona aman, hanya menjual pesona karakter, dialog receh, dan nostalgia. Ya, ngan saukur pengulangan sih.
7/10 Bintang
review oleh: Bobby Batara