Problem Klasik Istri vs Ibu Mertua
Konon, sampai kapan pun anak laki-laki akan selalu dianggap milik ibunya. Kalimat bijak inilah yang mendorong Aditya Santana bikin film pendek Keluarga Suami Adalah Hama. Sineas Anggy Umbara lantas mengadaptasi ke layar lebar.
Sekilas judulnya terdengar macam bercanda dan bikin kita menduga filmnya bicara urusan jagung-kedelai. Ya, macam tentara kita yang kini doyan bertani.
Di balik judul nyeleneh, Anggy justru membawa masalah serius dan dekat dengan hajat hidup orang banyak. Konflik menantu perempuan versus keluarga suami bukan isu baru. Gesekan kecil yang terus dipendam bisa berubah menjadi perang batin yang melelahkan.
Film dibuka lewat balada pasutri muda Intan (Raihaanun) dan Damar (Omar Daniel). Intan terpaksa tinggal bareng keluarga suami di tengah kondisi in this economy. Alih-alih merasa diterima, ia malah diperlakukan bak ART ketimbang jadi anggota keluarga. Perlahan konflik pun tumbuh.
Anggy Umbara mengemas isu domestik ini dengan pendekatan santai tapi menohok. Sakit tapi tak berdarah. Penonton diajak melihat betapa nyebelin keluarga Damar, terutama sosok ibu mertua yang selalu benar. Tak hanya ucapan dan gestur, tatapan sinisnya pun cukup bikin emosi. Setiap hari Intan selalu salah di matanya.
Memang, akting pemainnya sukses menjaga emosi cerita. Raihaanun tampil meyakinkan sebagai perempuan yang terzalimi. Sampai-sampai, pemeran suaminya kedodoran mengimbangi kekuatan aktingnya. Playmakernya ada Meriam Bellina. Sikap manipulatifnya bergerak pelan tapi pasti. Sungguh menjengkelkan.
Kendati mengusung isu berat, Anggy tak terjebak pada melodrama yang lebay. Masih ada aroma komedi gelap yang membuat ceritanya lebih cair dan bikin gemas. Penonton bisa merasakan ada kedekatan emosi. Terutama adegan terkait soal keuangan, bikin nyeletuk ‘ah, bakal kena nih’.
Akhirnya, Keluarga Suami Adalah Hama sukses memotret relasi keluarga yang toxic tanpa kehilangan sisi menghibur. Ya, rasa gondok itu yang menjadi jualannya. Konfliknya membumi, sepele tapi jika dibiarkan menumpuk bisa menjadi luka dalam.
7/10
review oleh: Bobby Batara