Mobile Legends & Mobilitas Sosial
Mari kita buka tulisan ini dengan kutipan bapak bangsa, Sutan Sjahrir: “Hidup yang tak dipertaruhkan, tidak akan pernah dimenangkan.” Mendakik-dakik ya, tetapi pas banget buat melukiskan spirit film drama coming of age Nobody Loves Kay arahan sineas debutan Bernardus Raka.
Diangkat dari kisah nyata pro player asal Filipina, Kairi, film ini mengikuti perjalanan Kay (Bima Azriel). Remaja usia belasan dari keluarga pas-pasan yang tinggal bareng neneknya. Sementara kedua orang tuanya pekerja migran di Arab Saudi. Di tengah keterbatasan itu, Kay punya mimpi: menjadi pemain profesional Mobile Legends kelas dunia.
Ambisi itu membuat Kay rela mempertaruhkan segalanya, termasuk relasi dengan orang-orang terdekat: bestie dan keluarganya. Sifatnya kepala batu dan kerap emosional, namun inilah detak jantung filmnya yang bikin geregetan. Mampukah Kay wujudkan mimpinya?
Nobody Loves Kay memakai pakem from zero to hero ala Gen Z. Dunia di era digital membuka kesempatan untuk mengubah nasib lewat esports. Menjadi gamer profesional bukan lagi mimpi receh, melainkan jalan mobilitas sosial yang nyata.
Jujurly, film ini dengan pas menggambarkan kultur para gamer. Ketika push rank dan berburu kemenangan, emosi mereka ikut memanas. Umpatan kasar pun bertaburan saban mabar atau setiap pertandingan, hal biasa di lingkungan gamer. Gambaran inilah yang membuat filmnya diganjar klasifikasi usia 17 tahun ke atas dari LSF.
Eksekusi Bernardus Raka lumayan lugas dalam membangun dinamika pertemanan. Ido (Rey Bong) dan Aurelio (Joshia Frederico) hadir sebagai support system yang hangat sekaligus seru. Sementara Amanda (Aurora Ribero) menjadi sosok yang siap membantu Kay dengan tulus. Kehadirannya jelas semacam sinyal love interest, meski porsinya hanya selintas.
Ya, Nobody Loves Kay bukan sekadar bicara turnamen Mobile Legends atau mimpi menjadi pro player. Ada isu tentang generasi muda yang coba naik kelas sosial. Bukan mustahil, di era digital ini, masa depan bisa dipertaruhkan melalui kelincahan jempol dan layar ponsel.
Ah, bisa kali.
Skor: 7.5
review oleh: Bobby Batara