Sinema Artsy Sarat Aksi
Macam-macam motif orang terjun ke dunia film. Ada yang mengejar cuan, ada juga yang mengukir nama. Sutradara Wregas Bhanuteja tampaknya masuk tipe kedua. Sejak awal karier panjangnya, jalur festival menjadi ladang yang ia kuasai. Cerita yang ia angkat selalu mendapat tempat di pentas dunia.
Cerita Para Perasuk terjadi di Desa Latas yang punya tradisi unik: kesurupan jadi jalan ninja buat hiburan warga. Dunia desa ini dibangun Wregas bareng Alicia Angelina dan Defi Mahendra sebagai ruang yang terasa separuh nyata, tradisi mistik berjalan berdampingan dengan gaya bicara warga yang berlogat Jakarta pinggiran.
Konflik mulai bergerak ketika desa kedatangan pengembang properti. Dari titik ini, arah cerita sebenarnya sudah bisa ditebak: tradisi lokal akan berhadapan dengan logika pembangunan.
Kekuatan filmnya ada pada pertunjukan kesenian. Adegan tari yang mengundang roh-roh hewan memberi ruang visual yang cukup liar, terutama saat para penari berada dalam kondisi setengah sadar. Momen-momen inilah yang membuat film terasa hidup, tepatnya jenaka, bahkan ketika alur ceritanya berjalan linier.
Pada saat yang sama, karakter-karakternya cenderung menjadi penggerak gagasan, bukan pribadi yang kompleks. Aktor Angga Yunanda dan Maudy Ayunda misalnya, bermain cukup rapi, kendati ruang eksplorasi emosinya terbatas. Sementara kehadiran Anggun sebagai guru perasuk lebih tampak lewat aura dan vokalnya ketimbang kedalaman karakternya.
Sama seperti dua film sebelumnya, Wregas juga rajin menyelipkan kritik sosial. Ketika sosok pengembang serakah hadir, isu penggusuran pun tak terelakkan. Wacana ini disampaikan dengan nada lebih ringan dan jenaka ketimbang film-filmnya terdahulu.
Di sinilah Para Perasuk seperti kelanjutan dari jalur yang sejak lama ditempuh Wregas: kombinasi cerita lokal, isu sosial, dan gaya penceritaan yang ramah festival. Bagaimana dengan proyek berikutnya? Apakah akan tetap berjalan di jalur yang sama, atau mencari bentuk yang lebih berisiko.
Skor: 8/10
review oleh: Bobby Batara