Urban Legend Unik Khas Minahasa
Genre horor Indonesia punya resep yang itu-itu melulu, yakni desa di Jawa, karakter dukun, dan kutukan yang diwariskan ke anak cucu. Pakem ini terbukti ampuh membawa penonton ke bioskop. Tapi film Songko: Kisah Petaka dari Sulawesi hadir bak angin segar. Penonton diajak keluar dari pola lama dan menyelami budaya Minahasa. Ya, horor dari Sulawesi ternyata tak kalah mengasikkan.
Songko digambarkan sebagai makhluk gaib bertubuh tinggi besar, berjubah hitam, dan jadi sumber teror di sebuah desa. Konon, ia memburu gadis muda untuk dihisap darahnya.
Sosok ini menjadi pusat bencana di film Gerald Mamahit, debut penyutradaraannya setelah dikenal sebagai penulis skenario horor, di antaranya KKN di Desa Penari (2022) dan Godaan Setan yang Terkutuk (2025).
Ceritanya berlatar tahun 1986 di Tomohon, dimulai dengan serangkaian kematian misterius gadis-gadis muda. Warga yakin ini ulah Songko. Di tengah chaos, keluarga Helsye (Imelda Therinne) dituduh sebagai biang keladi hingga diusir dari desa bareng suami dan anaknya. Namun setelah mereka pergi, teror tak juga berhenti, malah terasa kian menjadi-jadi.
Yang bikin Songko menonjol bukan cuma sosok hantunya yang ikonik: jangkung dengan mata merah menyala, tapi juga atmosfernya. Desa yang gelap, berkabut, dan penuh rasa waswas membuat penonton terus waspada, bahkan di luar momen jumpscare-nya.
Kekuatan lain terletak pada detail budaya Minahasa yang terasa hidup. Para aktor tampil dengan dialek yang meyakinkan. Sementara elemen kearifan lokal macam kuliner khas Cap Tikus hingga tradisi ritual Katolik memberi nuansa yang jarang disentuh sineas horor Indonesia.
Sayangnya, dari sisi logika cerita film ini belum rapi betul. Ada logika yang mengganggu, terutama tentang motif Songko. Jika targetnya gadis muda, mengapa ia punya target lain di luar itu? Dan banyak pertanyaan yang dibiarkan menggantung tanpa jawaban memuaskan.
Kendati logikanya timpang, Songko tetap menarik lewat atmosfer dan kekuatan budayanya. Memang belum sempurna, tapi cukup berani keluar dari zona nyaman dan itu patut diapresiasi.
Skor: 7/10
review oleh: Bobby Batara