Pertempuran Final Melawan Sauron
Setelah Lord of the Rings (LOTR) The Fellowship of the Rings dan The Two Towers, maka babak akhir peperangan mega dasyat di Middle Earth memasuki fase akhir. Rohan yang terjepit di Helms Deep dalam The Two Towers berhasil keluar menjadi pemenang setelah kedatangan Gandalf bersama pasukan Rohan yang setia. Penyihir Saruman berhasil bertekuk lutut setelah markas besarnya dihancurkan oleh para tetua hutan. Frodo terus melanjutkan perjalanan untuk menghancurkan cincin.
Persoalannya, Pasukan Sauron tetaplah kuat. Para Orc makin menghimpun kekuatan. Sementara Pertahanan pinggir sungai dari Gondor kewalahan melawan serbuan pasukan Sauron. Gondor menjadi pertaruhan utama. Merebut Gondor adalah menjadi kewajiban pasukan Sauron.
Gandalf memilih lebih dahulu menuju Gondor yang terdesak. Sementara Aragorn, Legolas, bersama Gimli tetap menemani Theoden sembari membujuk Rohan agar ikut membantu Gondor.
Sementara di Gondor, situasi menjadi pelik. Denethor pengurus Kerajaan (yang bisa dibilang penguasa sementara) menjadikan alasan kematian anaknya Boromir adalah akhir dari Kerajaan Gondor. Padahal, Faramir anak keduanya berjibaku mempertahankan Kota penyangah dari serbuan Pasukan Sauron.
Hingga akhirnya, penyingkiran Denethor dan pertahanan Gondor dipimpin oleh Gandalf. Sembari menunggu bantuan dari Aragorn Cs serta bantuan dari Rohan yang dipimpin langsung oleh Raja Theoden yang datang terpisah.
Sementara itu, persahabatan Sam dan Frodo makin diuji di kala Smeagol yang menemani mempunyai tujuan licik tersendiri. Namun, misi Sam dan Frodo musti berhasil. Karena apapun hasil peperangan di Gondor, apabila Frodo dan Sam gagal, maka Middle Earth akan menjadi milik Saruman.
Trilogi final dari saga LOTR ini berhasil ditutup dengan epik oleh Peter Jackson sebagai sutradara. Adaptasi dari Novel J.R.R. Tolkien ini berhasil ditransformasikan ke dalam visual yang begitu memikat. Jangan-jangan, Versi LOTR film malah justru lebih menarik dan lebih mumpuni dari Novelnya.
Runutan kisah dalam The Return of the Kings berjalan dengan runut mulai dari awal mempertahankan Rohan hingga penghancuran cincin yang menjadi biang masalah di Middle Earth. CGI yang ditampilkan oleh Peter Jackson begitu mulus sesuai dari esensi cerita di novel.
Pertempuran kolosal di ladang luas depan kerajaan Gondor menjadi pertempuran kolosal epik dalam sinema modern. Pertempuran penggambaran Kerajaan Gondor yang bertingkat tampil megah dan sepertinya semua imajinasi sang penulis novel mampu divisualisasikan oleh Peter Jackson.
Selain itu, meskipun ini film fiksi penuh adegan aksi, namun secara kualitas akting, tetap mampu terjaga. Terlebih pada sosok hubungan emosional Sam dan Frodo, Eowyn, Mary, dan Theoden, hingga hubungan Gandalf dan Pippin. Tak lupa selipan konyol interaksi antara Legolas dan Gimli.
Secara keseluruhan, film ini berdiri kokoh sebagai puncak mahakarya sinema fantasi berkat pengarahan tak tertandingi Peter Jackson dalam memadukan skala pertempuran kolosal, pencapaian teknis berevolusioner, dan ketajaman emosional karakter.
Dengan narasi yang menyatukan kepahlawanan, pengorbanan, serta persahabatan sejati di tengah kepungan kegelapan Middle Earth, film ini memberikan resolusi yang megah sekaligus menyentuh, menjadikannya penutup trilogi sempurna yang menetapkan standar tertinggi bagi genre aksi epik sepanjang masa.
Skor: 8.5/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh