Ketika Santet Digunakan untuk Meraih Kekuasaan
Film-film horor Indonesia dalam sekurangnya duapuluh tahun terakhir, tidak lagi menempatkan ustaz atau pemuka agama sebagai sosok yang penting. Ia bahkan tidak lagi muncul sebagai protagonis yang menghancurkan iblis. Dalam film “Pengabdi Setan” (2017) dan sekuelnya, garapan Joko Anwar, Pak Ustaz justru tewas dikalahkan setan. Dalam film “Qodrat” (2022), sosok iblis digambarkan sangat kuat dan mengalahkan Ustaz Qodrat.
Pendek kata, iblis dan setan sebagai simbol kejahatan belakangan digambarkan lebih kuat daripada protagonis. Kecenderungan ini yang kembali dibalikkan oleh film “Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa”. Film garapan Azhar Kinoi Lubis ini mengambil posisi yang jelas, bahkan kejahatan harus dihukum, dan kebaikan sudah seharusnya mendapatkan tempat.
Kebaikan itu diwakili Pramuja (Reza Rahadian), seorang pemuda yang mencari bapaknya. Pramuja membantu masyarakat Desa Karangsetan melawan Bisman (Clift Sangra), kepala desa yang jahat dan menggunakan berbagai cara untuk meraih kekuasaan dan mengumpulkan kekayaan. Pramuja juga menentang bibinya (Jenar Maesa Ayu) dan Suzzanna (Luna Maya) mempelajari ilmu santet.
Bisman dan anak buahnya mendapat hukuman setimpal, mereka terbunuh satu persatu dengan cara yang mengerikan karena ulah mereka sendiri. Seting tahun 1980-an film tidak mengecewakan, artinya film ini dibuat dengan kesungguhan. Untuk menghadirkan semua itu tentu memerlukan budget yang besar. Termasuk adegan yang penuh darah dan nanah divisualkan begitu nyata. Alur film ini memiliki tiga babak yang runut: perkenalan, konflik, dan penyelesaian. Meskipun alurnya mudah ditebak, film ini memiliki bobot pada cerita. Tidak sekadar menghadirkan adegan-adegan seram dan mencekam.
Film “Suzzanna Santet Dosa di Atas Dosa” jelas bukan horor yang sekadar mengandalkan kemunculan setan. Ini adalah horror-thriller psikologis supranatural. Tentang ilmu hitam yang digunakan oleh orang-orang jahat untuk merebut kekuasaan dan bertidak biadab terhadap masyarakat. Tapi ya hanya sebatas itu,secara cerita dan teknik tak menawarkan sesuatu yang baru. Ini memang film sekadar hiburan dan cocok diputar saat libur lebaran. Akting Clift Sangra buruk sekali, bahkan cara dia mengucapkan dialog seperti hapal-hapalan belaka. (Aris Kurniawan)
Skor: 6/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan