Drama Keluarga tentang Pola Relasi Orangtua dan Anak
Sebagian kita mengalami punya orang tua terlalu ikut campur dalam hidup kita. Atau sebaliknya, sebagai orang tua merasa semua yang dilakukan semata-mata demi kebaikan anak. Batas antara perhatian dan kontrol memang sering kali setipis tisu. Ada orang tua yang memberi ruang kepada anak untuk mengambil keputusan sendiri, ada pula yang merasa semua keputusan harus tetap berada di tangannya.
Tipe yang terakhir inilah yang dihadirkan Meriam Bellina lewat karakter Retno dalam “Senin Harga Naik” (2026) yang rilis libur lebaran yang lalu. Buat Retno, anak tetaplah anak, berapa pun usianya. Mereka harus diarahkan, diawasi, bahkan diatur, karena orang tualah yang dianggap paling tahu mana yang terbaik. Jangan coba-coba membantah. Sikap yang terasa mengekang itu dibungkus dengan satu kalimat sakti: “Mama melakukan ini demi kebaikan kamu.”
Film dibuka dengan pertengkaran hebat antara Retno dengan putri keduanya, Mutia (Nadya Arina). Mutia merasa ibunya sudah kelewat jauh mencampuri urusan pribadinya. Sementara bagi Retno, semua itu hanyalah bentuk kasih sayang seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dari keputusan yang keliru. Tak ada yang bersedia mundur satu langkah pun. Emosi memuncak, kata-kata saling terlontar, hingga akhirnya Mutia memilih mengemasi koper dan meninggalkan rumah. Dari sinilah film ini mengajak penonton mempertanyakan, sampai di mana kasih sayang boleh ikut mengatur hidup seseorang.
Sikap over protektif Retno juga dirasakan dua anaknya yang lain: Amal (Andri Mashadi), dan Tasya (Nayla D. Purnama). Tetapi berbeda dengan Mutia, Amal dan Tasya memilih patuh kepada ibunya. Setelah menikah, barulah Amal punya alasan yang wajar untuk keluar dari rumah dan sikap otoritarian ibunya yang seroang single parent. Retno membuka usaha toko roti yang telah melewati masa kejayaannya. Toko roti “Mercusuar” yang dibangun Retno sejak ketiga anaknya ingusan itu kalah bersaing dengan toko roti kekinian kegemaran anak-anak Gen Z.
Dinna Jasanti berhasil membangun konflik antaranggota keluarga, terutama orangtua dan anak, dengan rangkaian sebab-akibat yang masuk akal, sambil tak lupa menyisipkan unsur komedi yang cukup. Porsi yang memperlihatkan hubungan ibu dan anak-anaknya yang diwarnai benci dan cinta hadir tak perlu berlebihan. Konflik anak-anak dan orangtua dalam film ini sesungguhnya muncul lantaran orangtua merasa pengorbanannya diabaikan, sementara anak-anak merasa suaranya tidak didengar.
Film cukup detail menampilkan aktivitas di toko roti—lengkap dengan proses pembutan roti—dan kesibukan di kantor pemasaran perusahaan pengembang yang penuh tekanan dan intrik. Nadya Arina dengan meyakinkan memerankan seorang marketing real estate yang ambisius. Sayangnya konflik berakhir antiklimak, sebuah pilihan yang tampaknya mengikuti harapan sebagian besar penonton, agar merasa nyaman.
Dari sisi akting para pemain film ini memperlihatkan kekompakan atau chemistry yang menarik. Meriam Bellina , seperti biasa, mampu menjadi sosok ibu yang tangguh dan cerewet tetapi sekaligus rapuh. Tetapi kenapa wajahnya terlihat sendu dan menyimpan amarah melulu. Beda dengan Retno saat muda yang diperani Rianty Catwright yang wajahnya ramah dan teduh. (Aris Kurniawan)
Skor: 7/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan