Tak Sempurna, Namun Sangat Menghibur
Setelah sekian lama, Stephen Chow kembali menawarkan kegilaan khasnya lewat Kung Fu Soccer (2026). Menggabungkan sepak bola, kung fu, komedi absurd, dan aksi penuh kejutan, film ini memang tidak sepenuhnya sempurna. Namun, untuk urusan menghibur penonton, Kung Fu Soccer masih punya tendangan yang cukup kuat.
Film ini mengikuti perjuangan Emei Women’s Football Team, tim sepak bola perempuan yang berusaha membuktikan kemampuan mereka di tengah persaingan kompetisi. Konsepnya sederhana, tetapi kemudian berkembang menjadi tontonan penuh aksi ketika kemampuan kung fu para pemain mulai menjadi senjata di lapangan. Dan tentunya ciri khas Stephen Chow: konyol!
Zhang Xiaofei tampil sebagai Shuangshuang, kapten tim yang menjadi salah satu pusat cerita. Dilraba Dilmurat memerankan Yulong, salah satu pemain penting Emei. Sementara Lay Zhang hadir sebagai Xu Feng, sosok yang membantu tim mengembangkan kemampuan mereka. Film ini juga dibintangi Carina Lau sebagai Grandmaster dan aktor Jepang Takeru Satoh sebagai Coach.
Dari sisi penokohan, Shuangshuang menjadi karakter yang paling mudah diikuti. Sebagai kapten, ia membawa semangat kepemimpinan sekaligus menjadi pengikat di antara para pemain. Namun, tidak semua karakter mendapatkan kedalaman yang sama. Beberapa tokoh lebih banyak ditempatkan sebagai penggerak komedi atau bagian dari pertandingan.
Kekuatan terbesar Kung Fu Soccer justru terletak pada keberaniannya untuk tidak serius. Stephen Chow memahami bahwa penonton datang bukan untuk melihat pertandingan sepak bola realistis. Tendangan dapat berubah menjadi serangan kung fu, kemampuan pemain dibuat berlebihan, sementara lapangan sepak bola menjadi arena pertarungan yang penuh kekacauan.Di sinilah nostalgia Shaolin Soccer terasa sangat kuat.
Formula tersebut memang bukan sesuatu yang benar-benar baru bagi Stephen Chow. Bahkan, bagi penonton yang sudah mengenal Shaolin Soccer, beberapa gagasan dalam film ini terasa seperti kembali ke wilayah yang pernah ia kuasai lebih dari dua dekade lalu.
Namun, Kung Fu Soccer memiliki pembeda melalui kehadiran tim perempuan sebagai pusat cerita. Pergantian perspektif tersebut memberikan energi baru sekaligus membuat film terasa lebih relevan dengan penonton masa kini.
Visualnya cukup mendukung kegilaan adegan aksi, meskipun tidak selalu terlihat sempurna. Beberapa efek visual bahkan terasa kurang halus jika dibandingkan dengan standar film blockbuster masa kini. Akan tetapi, kelemahan tersebut masih bisa dimaafkan karena gaya film memang sengaja dibuat berlebihan.
Persoalan lain terletak pada humornya. Ada lelucon yang berhasil memancing tawa, tetapi ada pula bagian yang terasa terlalu mengandalkan formula lama. Bagi penggemar Stephen Chow, hal ini mungkin justru menjadi bagian dari kesenangan. Namun, bagi penonton baru, gaya komedinya bisa terasa tidak selalu konsisten. Meski begitu, buat kamu yang sengaja menonton film untuk melepas penat, bebas tertawa, Kung Fu Soccer bisa jadi pilihanmu.
Kung Fu Soccer berhasil melakukan satu hal penting: membuat penonton bersenang-senang.
Film ini tidak datang dengan ambisi menjadi drama olahraga yang mendalam. Ia ingin menjadi tontonan ringan yang mempertemukan sepak bola dan kung fu dalam bentuk paling absurd. Dan ada pesan yang sebenarnya cukup mendalam:
Sebesar apa rasa percaya dirimu hingga keegoisan terus muncul? Seberani apa kamu mempercayai orang lain?
Pada akhirnya, Kung Fu Soccer memang bukan film yang sempurna. Karakter belum semuanya tergali, beberapa humor terasa familiar, dan kualitas visual masih memiliki kekurangan. Tetapi energi permainan, aksi kung fu, humor absurd, serta nostalgia Stephen Chow membuat film ini tetap layak dinikmati.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: K. Prabaningrum