Ketika Pesawat Presiden AS Dibajak
Klise…Mungkin itu bahasa yang paling cocok untuk menggambarkan film Air Force One. Tapi apakah membosankan? tidak juga. Karena meski klise dan memakai rumus yang sebenarnya sudah kita tahu seperti layaknya film aksi Hollywood, namun film ini tetap menghibur dan juga mempunyai kelebihannya.
Tidak bisa dikatakan hanya aksi semata, namun Air Force One, bisa dikatakan sebuah film aksi juga ada unsur thriller dan politik di dalamnya. Penulis skenario film ini tidak hanya membuat film ini sekedar penuh tembak-tembakan dan juga pukul-pukulan. Namun, ada sebuah kisah politik yang juga berkualitas meski penyelesaian dengan rumus film aksi hollywood pada umumnya.
Kisahnya dengan latar belakang perang dingin antara Amerika dan Uni Soviet telah berakhir. Rusia yang demokratis masih direcoki oleh simpatisan komunis radikal yang dipimpun Jendral Radek dengan negara terpisah dari Rusia. Namun Radek menginginkan kebangkitan Uni Soviet dan menganggap pemerintahan Rusia yang sekarang berpihak pada Amerika.
Kerja-sama Amerika dan Rusia untuk melawan Radek dimulai di awal pembukaan ketika pasukan khusus memilih menculik Radek agar Diadili. Setelah keberhasilan tersebut, Presiden AS James Marshall bertandang ke Rusia dan merayakan penangkapan Radek sembari memberikan maklumat tak akan memberi toleransi lagi kepada para teroris atau yang dianggap mengancam AS.
Setelah itu, Presiden James Marshall bersama rombongan kepresiden beserta anak remaja perempuannya serta istri akhirnya meninggalkan moskow dengan pesawat kepresidenan yang dikenal dengan nama Air Force One. Ternyata ketika pesawat mengudara, dengan segala cara, loyalis Jendral Radek yang menyamar sebagai wartawan ternyata berada dalam Air Force One.
Saat waktu yang tepat, para loyalis Radek yang berjumlah beberapa orang dan dipimpin oleh Ivan tersebut berhasil menguasai pesawat dengan tujuan menjadikan sang presiden AS dan seluruh orang yang ada dalam pesawat Air Force One menjadi alat tawar agar Jendral Radek dibebaskan.
Disutradarai oleh sutradara Wolfgang Petersen yang namanya mencuat setelah sukses membuat film militer sejarag berjudul Das Boot yang banyak dipuji kritikus film. Tidak hanya itu saja, Petersen juga berhasil melambungkan namanya lewat film In The Line of Fire dan juga film Outbreak.
Dalam Air Force One, Petersen benar-benar memanfaatkan rumus aksi hollywood yang tahu bagaimana cara menghibur penonton penyuka film aksi laga berbau kepahlawanan. Aksi penangkapan Jendral Radek di pembuka film, ketegangan ketika loyalis Radek menguasai Pesawat, hingga penutup kisah yang menegangkan ketika upaya penyelematan terakhir.
Selain itu, ketegangan seru sepanjang penyanderaan serta bumbu-bumbu aksi lewat pertarungan pesawat di udara juga sangat menghibur meskipun klise. Thriller politik tersaji menarik ketika bumbu intrik politik tetap disajikan dalam adegan ruang gedung putih yang ingin membebaskan sang presiden.
Namun, sebagus-bagusnya aksi dan ketegangan yang diberikan, Air Force One akan datar apabila tak ada dukungan dari akting yang menawan dari para aktor. Gary Oldman bisa dikatakan mampu menjalankan tugasnya dengan baik sebagai loyalis Radek dengan lawan main Harisson Ford yang berwibawa sebagai Presiden AS.
Perpaduan akting ini mampu menjadikan film Air Force sebagai salah satu film thriller politik namun juga sarat aksi. Ceritanya meski lagi-lagi klise, namun sekali lagi film ini begitu menghibur tanpa harus berpikir keras.
Memang film ini bukanlah ditakdirkan sebagai film yang akan berkompetisi di Oscar. Ibaratnya, film ini memang pada jalur persaingan film-film aksi seperti Die Hard nya Bruce Willis atau Speed nya Keanu Reeves. Film ini yang dikategorikan film aksi menghibur namun juga tetap terjaga dari sisi jalan cerita dan mengambil situasi dalam pesawat canggih Air Force One.
8/10 Bintang
review oleh: Jonathan Ricky