Disiplin Berlebihan yang Menghancurkan Mental
Isu kesehatan mental belakangan semakin mencuat dan menjadi perhatian masyarakat. Hal ini dipicu oleh banyaknya kasus-kasus yang bertalian erat dengan kesehatan mental. Isu ini banyak dibahas baik di media sosial maupun seminar, bahkan obrolan sehari-hari. Sejumlah sineas dengan jeli lalu mengangkatnya ke layar. Hal ini tentu saja merupakan kabar baik, dan kabar baik lagi topik yang sedang hangat dan relevan dengan situasi sekarang ini, digarap dengan bagus.
Salah satunya adalah film “Aku Sebelum Aku” garapan Ginatri S Noer. Original Netflix yang tayang sejak 16 Juli 2026 ini menampilkan persoalan kesehatan mental yang menautkannya dengan trauma masa lalu yang membawa dampak buruk bagi masa kini dan mengancam masa depan.
Kisahnya berpusat pada Jati (Bimasena), seorang remaja awal yang mengalami tekanan luar biasa dari ayahnya, Pak Jaya (Ringgo Agus Rahman), yang terobsesi dengan kesempurnaan. Dengan dalih demi masa depan yang gemilang sang anak, Pak Jaya menerapkan disiplin yang sangat ketat kepada Jati untuk belajar dan berlatih. Dalam menerapkan disiplin Pak Jaya memang tidak menggunakan kekerasan fisik. Melainkan lewat sikap, nada suara, khotbah-khotbah motivasi yang alih-alih membuat Jati termotivasi untuk lebih bersemangat mengejar prestasi, malah bikin Jati kena mental. Lelah secara psikis.
Jati yang memang cerdas dan giat berlatih mampu menjadi juara umum di sekolahnya, dan akan mewakili sekolahnya di ajang nasional. Tapi semua itu bukan membuat Jati bangga dan senang. Sebaliknya ia mengalami serangan kecemasan akut. Ketika Jati mendapat peringat 6 dalam lomba lari di sekolahnya, Pak Jaya bukannya merasa senang dan mengucapkan selamat, dia malah menyalahkan Jati karena kurang berlatih lebih keras. “Seharusnya kamu dapat peringkat pertama kalau saja kamu berlatih lebih keras!” kata Pak Jaya, yang membuat Jati memendam kekesalan dan merasa tertekan.
Komentar dengan nada bicara tak puas serta gestur yang memperlihatkan kekecewaan nyatanya sama bahayanya dengan kekerasan fisik terhadap psikologis seorang anak. Sikap disiplin yang diterapkan Pak Jaya kepada Jati rupanya punya latar belakang yang jauh ke masa lalunya, bahkan hingga kakek buyutnya pada era kolonial. Jaya kecil acap mengalami kekerasan baik fisik maupun verbal dari ayah dan kakaknya. Jaya tak mau Jati mengalami hal yang sama, tetapi yang terjadi sikap Jaya justru melukai Jati secara mental. Tetapi apa pun yang melatar-belakangi sikap Jaya tidak bisa dijadikan pembenaran apalagi pemakluman atas perlakuannya terhadap Jati.
Film ini hendak menyampaikan bahwa pola asuh yang keliru berpeluang memunculkan permasalahan mental terhadap anak. Orangtua yang belum terpapar parenting modern, banyak yang tidak menyadari betapa pola asuh yang otoritarian dapat meninggalkan luka batin yang jejaknya bisa memanjang bahkan hingga si anak jadi dewasa kelak.
Film ini digarap amat rapi dengan akting para pemain yang kuat sekali. Ginatri semakin matang mengambil sudut pengambilan gambar yang menghasilkan selera artisitk dan simbol-simbol yang menarik dan segar. Menurut saya kekurangan film ini adalah kehadiran subplot yang mengisahkan Asa (Widuri Puteri) dan keluarganya. Asa yang tak lain teman Jati di sekolah yang baru, hidup bahagia bersama ayah dan ibunya sampai kemudian diketahui dia bukan anak kandung dari ayah dan ibu yang sangat menyayanginya. Asa adalah anak pungut yang ditemukan di dalam angkot.
Saya paham kehadiran Asa sebagai pembanding bagi permasalahan yang dihadapi Jati. Secara cerita sebenarnya sub plot ini juga keren, tapi hanya sebagai sesuatu untuk dikontraskan dengan Jati ini yang membuat cerita jadi kurang menggali lebih dalam isu kesehatan mental. Bila subplot ini dipangkas, film akan lebih efisien dan padat.
Skor: 8/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan