Perang Santet Keluarga Bangsawan Jawa
Diakui atau tidak, Indonesia masih lekat dengan berbagai kepercayaan kepada hal-hal mistik, klenik, dan supranatural yang sulit diterima oleh nalar. Salah satu yang paling dikenal adalah santet, praktik yang dipercaya melibatkan kekuatan entitas gaib untuk mencelakai orang lain dari jarak jauh. Santet telah menjadi bagian dari imajinasi kolektif masyarakat Indonesia.
Cerita berlatar santet pun berulang kali diangkat ke dalam film Indonesia karena memang digemari penonton. Unsur mistik ini menawarkan bahan cerita yang kaya: dari konflik personal, dendam, hingga teror supranatural yang dapat menghadirkan ketegangan sekaligus kengerian. Dari film-film horor klasik hingga produksi masa kini, santet terus mengalami berbagai pengolahan dan penafsiran. Ada yang menjadikannya sebagai sumber teror utama, ada pula yang menggunakannya untuk membicarakan persoalan sosial, keluarga, dan sisi gelap manusia.
Film “Janur Ireng” (2025) garapan Kimo Stamboel menawarkan sudut pandang yang menarik tentang santet. Jika di dunia nyata kita mengenal istilah Sembilan Naga, sebutan bagi segelintir orang dari kalangan pengusaha yang dianggap memiliki kekuasaan dan pengaruh besar terhadap situasi sosial-politik Indonesia, film ini menghadirkan konsep yang jauh lebih kelam. “Janur Ireng” membayangkan kekuatan dan persaingan di antara para pemilik pengaruh tersebut melalui dunia santet, sehingga praktik mistik tidak sekadar menjadi sumber teror, tetapi juga menjadi metafora tentang perebutan kekuasaan.
Ceritanya mengikuti perjalanan kakak beradik Sabdo Kuncoro (Marthino Lio) dan Intan Kuncoro (Nyimas Ratu Rafa) yang harus kehilangan kedua orangtua mereka. Keduanya kemudian tinggal bersama sang paman, Arjo Kuncoro (Tora Sudiro), yang dalam film ini tampil beda. Namun, di balik niat Arjo menampung keponakannya, tersimpan agenda yang jauh lebih gelap. Dengan kekuatan gaib santet, Arjo membakar rumah Sabdo dan Intan agar memiliki alasan untuk membawa keduanya tinggal di rumahnya. Sabdo dipersiapkan sebagai alat sekaligus panglima perang gaib untuk menghadapi musuh-musuhnya, sementara Intan disiapkan sebagai tumbal dalam ritual Janur Ireng. Dengan menguasai keduanya, Arjo berharap memperoleh kekuatan besar sekaligus memastikan Sabdo dan Intan tidak tumbuh menjadi ancaman bagi keluarganya.
Musuh Arjo adalah Trah Pitu, tujuh keluarga yang memiliki kekuasaan dan kekayaan besar. Dua di antaranya adalah keluarga Karsa Atmojo (Karina Suwandhi) dan Pastika Gayatri (Faradina Mufti), yang berasal dari kalangan bangsawan Jawa. Trah Pitu berusaha menyerang keluarga Arjo demi memperluas kekuasaan dan menguasai berbagai lini bisnis, termasuk perkebunan sawit dan pertambangan. Perseteruan antarkeluarga inilah yang menjadi inti “Janur Ireng”, dengan santet digunakan sebagai senjata untuk saling menyerang dan menjatuhkan.
Kimo Stamboel menghadirkan pertarungan antarkeluarga tersebut dengan pendekatan yang brutal dan sangat fisikal. Jika horor umumnya mengandalkan penampakan hantu atau suasana mencekam, Kimo justru menjadikan tubuh manusia sebagai sumber kengerian. Adegan gore bertebaran sepanjang film: leher patah, kepala pecah, hingga tubuh yang dibanting dan dihancurkan. Kekerasan visual semacam ini menjadi ciri khas Kimo dan membuat “Janur Ireng” jelas bukan tontonan untuk anak-anak. Selain adegan gore, film ini juga menampilkan adegan erotis yang diperankan Masayu Anastasia sebagai Lasmini, istri Arjo.
“Janur Ireng” merupakan prekuel “Sewu Dino” (2023). Sebagai prekuel, film ini berusaha menjelaskan latar belakang berbagai konflik yang kemudian berkembang dalam “Sewu Dino”. Penonton yang telah menyaksikan “Sewu Dino” tentu akan lebih mudah memahami posisi Sugik (Rio Dewanto) dan keterkaitannya dengan konflik Trah Pitu. Namun, bagi penonton yang belum menyaksikan film tersebut, “Janur Ireng” tetap dapat dinikmati sebagai cerita yang berdiri sendiri.
Sebagai film horor, “Janur Ireng” berhasil menghadirkan kengerian dengan cara yang maksimal yang dalam beberapa adegan mengingatkan pada film Kimo yang lain “Abadi Nan Jaya”. Terornya tidak terutama bersumber dari kemunculan hantu, melainkan dari tubuh manusia yang disiksa, dihancurkan, dan mengeluarkan darah dalam jumlah berlebihan. Sayangnya, film ini belum mengulik lebih dalam mengenai Trah Pitu, terutama latar belakang ketujuh keluarga tersebut dan konflik di antara mereka. Padahal, intrik antarkeluarga inilah yang menjadi fondasi utama cerita. Akibatnya, dunia besar yang dibangun “Janur Ireng” terasa masih menyimpan banyak potensi yang belum sepenuhnya digali.
Skor: 6.5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan