Komedi Romantis yang Terasa Biasa Saja
Film drama romantis selalu punya tempat tersendiri di hati penonton. Ia datang sebagai hiburan ringan, menawarkan kisah cinta yang manis, konflik yang mudah ditebak, lalu berakhir sebelum sempat meninggalkan banyak jejak. Ibarat kerupuk, rasanya gurih dan renyah ketika dinikmati, tetapi cepat habis dan tidak membuat kenyang. Tentu, tidak semua drama romantis sesederhana itu. Ada yang mampu menjadikan kisah cinta sebagai pintu masuk untuk membicarakan persoalan hidup yang lebih dalam. Sayangnya, “Putri Bintang Lima” (2024) justru memilih jalur paling aman sebagai komedi drama romantis yang ringan dan mudah ditebak.
Film garapan M. Ainun Ridho ini mengikuti kisah Perdana (Chicco Kurniawan) dan Cempaka (Sitha Marino), dua anak muda yang saling jatuh cinta tetapi harus berhadapan dengan tembok bernama status sosial. Perdana adalah pemuda sederhana, anak mantan pejabat eselon tiga. Sementara Cempaka berasal dari keluarga militer terpandang, dengan ayah berpangkat jenderal. Perbedaan latar belakang tersebut sejak awal sudah menjadi tanda bahwa hubungan mereka tidak akan berjalan mulus. Masalahnya, film tidak banyak menawarkan kejutan dalam mengolah konflik tersebut. Penonton seperti sudah diberi peta perjalanan sejak menit-menit awal: bertemu, jatuh cinta, menghadapi tentangan keluarga, lalu mencari jalan keluar.
Perdana sendiri digambarkan sebagai pemuda berpendidikan tinggi yang sedang berada dalam situasi serba tanggung. Lulusan S2, tetapi belum juga mendapatkan pekerjaan. Kondisi itu bahkan membuat Siska (Fannita Posumah), kekasihnya, meninggalkannya karena orangtua Siska menginginkan calon menantu yang memiliki karier di Amerika. Sambil menunggu kepastian lamaran pekerjaan di Amerika, Perdana membuka sebuah kafe. Tempat sederhana inilah yang kemudian mempertemukannya dengan Cempaka, perempuan cantik dengan kepribadian menarik. Pertemuan mereka pun berkembang menjadi hubungan asmara yang segera berhadapan dengan persoalan klasik: restu keluarga dan perbedaan kelas sosial.
Sesederhana konfliknya, sesederhana pula cara film menyelesaikannya. Tidak ada upaya yang cukup kuat untuk membongkar persoalan status sosial tersebut menjadi sesuatu yang lebih menarik atau relevan dengan kehidupan hari ini. Justru kekuatan film lebih terasa dari para pemainnya. Chicco Kurniawan dan Sitha Marino cukup meyakinkan sebagai pasangan yang sedang kasmaran, sementara Tio Pakusadewo sebagai ayah Perdana dan Roy Marten sebagai ayah Cempaka memberikan bobot pada cerita. Kehadiran mereka membuat sejumlah adegan terasa lebih hidup, terutama ketika film mulai memasuki wilayah konflik keluarga. Produksi Clock Work Films, anak perusahaan MD Pictures, ini juga menyisipkan komedi di beberapa bagian yang cukup menghibur dan tidak terlalu mengganggu jalannya cerita.
“Putri Bintang Lima” terlalu nyaman bermain di wilayah yang sudah dikenal. Komedinya tidak benar-benar menemukan bentuk baru, romansa yang ditawarkan pun tidak cukup menggugah, sementara konflik perbedaan status sosial terasa seperti formula lama yang dipoles ulang. Film ini memang tidak buruk jika tujuannya sekadar menjadi tontonan santai. Tetapi sebagai sebuah komedi romantis, ia terasa kurang berani untuk menjadi lebih kreatif. Alih-alih meninggalkan rasa manis yang bertahan lama, “Putri Bintang Lima” justru seperti kerupuk yang terlalu ringan: renyah sesaat, lalu cepat dilupakan.
Skor: 5.5/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan