Transisi Kedewasaan Spider-Man
Skor: 8.5/10 BintangĀ
Peter Parker dengan jubah Spider-Man kembali ke layar lebar. Menegaskan bahwa sang Spider-Man memasuki masa transisi dari remaja yang duduk di bangku SMA memulai petualangan ke era kuliahan. Sang super-hero digambarkan sendirian, tanpa sahabat karib, dan juga sang kekasih pada awalnya. Bahkan sang bibi yang merupakan keluarga satu-satunya telah tiada dan terus membayangi diri Peter Parker.
Namun, kesendirian diri Peter Parker digambarkan sebagai konsekuensi sebagai pahlawan yang selalu menjaga New York dari marabahaya. Sehingga dirinya coba menerima kenyataan yang ada. Menjalankan kewajiban untuk menjadi pemberantas kejahatan meskipun tanpa keceriaan sang orang-orang terdekat seperti dalam film sebelumnya.
Selanjutnya, kisah Spider-Man tak akan seru tanpa ada musuh yang dihadapi. Disinilah kelebihan dari penulis skenario. Lawan tak harus tampil lebih beringas dan lebih kuat. Awalnya, lawan bisa menggunakan kekuatan lompat dari satu tubuh manusia ke tubuh manusia lainnya. Ini membuat rumit si manusia laba-laba untuk mengatasinya.
Apakah Spider-Man sendirian? Tidak juga. Ada Frank Castle (The Punisher), Bruce Banner (Hulk), serta Yelena (Black Widow) yang hadir turut membantu Spider-Man di kisah film ini. Meski tak dominan, namun sedikit banyak, para super-hero bintang tamu ini menambah kelebihan dari Spider-Man: Brand New Day.
Menariknya, film ini tak hanya menghadirkan action semata sebagai tontonan bagi penyuka film super-hero pada khususnya. Ada transisi dari sosok Peter Parker yang lebih dewasa yang menggali beban psikologis sang pahlawan dalam kesendiriannya. Paduan aksi laga Spider-Man dengan jaring laba-laba dan juga kisah kerentanan emosional Peter Parker dibalut dengan begitu rapih untuk menjadi tontonan.
Masih memakai beberapa formula lama yaitu seperti pertikaian antar super-hero protagonis juga dibalut begitu menarik. Tanpa bermaksud spoiler, komedi antara Frank Castle si Punsher dan Peter Parker si Spider-Man terjalin apik dan menyegarkan.
Hal baru juga terlihat dari identitas Bruce Banner si manusia hijau Hulk, menampilkan sosok orisinil Hulk yang selama ini diinginkan. Perubahan Hulk ketika marah menjadi sebuah tontonan baru yang selama ini seperti hilang dalam film MCU saat menampilkan Hulk.
Klimaksnya tentu kehadiran dari Jean Grey yang merupakan karakter utama X-Men hadir mempesona. Kehadirannya begitu krusial sebagai pembuka generasi baru X-Men yang akan datang.
Hal terpenting yang tak bisa dilupakan adalah transformasi Spider-Man dalam diri Peter Parker yang selama ini mengandalkan teknologi dari warisan Tony Stark sang Iron Man. Keputusan penulis skenario dalam transisi perubahan Spider-Man yang alami, ditampilkan lugas dan sistematis. Spider-Man kali ini, mempunyai kekuatan alami dari tubuh super-hero untuk menabiskan dirinya adalah super-hero dari manusia laba-laba.
Secara keseluruhan, Spider-Man: Brand New Day membawa aksi yang memukau dengan penekanan laga aksi dengan beberapa adegan dari sudut kamera saat dirinya berayun dengan jaringnya dari kaca-mata Spider-Man. Transisi remaja Peter Parker yang lebih dewasa menjadi penekanan kuat dalam film ini.
Sedikit banyak, Spider-Man: Brand New Day juga membawa beban berat sebagai pembuka plot terbaru generasi super-hero Marvel yang akan datang setelah kejayaan Tony Stark Cs. Meski masih ada Avengers: Doomsday di akhir tahun, namun film ini menjadi pondasi serta jembatan kuat untuk universe terbaru Avengers dengan generasi baru.
Review oleh: Jonathan Ricky