Begitu Tipis Beda Antara Tragedi dan Komedi
Di manakah sebenarnya batas antara tragedi dan komedi? Pertanyaan ini terus menggema di dalam rongga dada saya sebagai selama menonton film “Suka Duka Tawa”, film cerita panjang debut penyutradaraan Aco Tenriyagelli. Tetapi bukan pertanyaan yang menuntut jawaban pasti, melainkan ajakan untuk merenungkan betapa dua realitas yang tampak bertolak belakang itu sesungguhnya hanya dipisahkan oleh garis yang amat tipis.
Sepanjang film, penonton terus-menerus ditempatkan dalam situasi yang membingungkan sekaligus menarik: haruskah tertawa, atau justru merasa sedih? Banyak adegan yang terasa lucu, tetapi jika dipikirkan kembali justru menyimpan kepedihan yang dalam. Sebaliknya, beberapa peristiwa tragis malah memancing tawa karena dikemas dengan cara yang jenaka. Di situlah kekuatan film ini. Aco seolah sedang mempertemukan dua saudara kembar yang selama ini kita anggap berbeda: tragedi dan komedi. Padahal, keduanya sering kali hanyalah dua cara memandang peristiwa yang sama.
Film “Suka Duka Tawa” mengingatkan kita pada kata-kata Charlie Chaplin, komedian dunia yang telah menjadi klasik. Chaplin bilang, dilihat dari kejauhan kehidupan manusia di atas bumi ini seperti komedi, namun saat dilihat dari dekat tak ubahnya sebuah tragedi. Pilihan latar kisah pelawak tunggal (stand up comedy) menjadi sangat tepat. Bahkan mungkin tak ada yang lebih tepat menyampaikan gagasan betapa batasan tragedi dan komedi setipis tisu. Karena hanya dalam stand up comedy si pelawak dapat menyampaikan tragedi hidupnya atau hidup kenalannya atau siapap pun menjadi komedi.
Itulah yang berlaku pada Tawa (Rachel Amanda), pelawak tunggal yang menjadikan tragedi dalam hidupnya sebagai bahan lawakan. Orang-orang menertawakan tragedi. Tragedi bagi Tawa, Komedi bagi penonton. Dan tragedi yang diungkapkan Tawa harus berhasil menjadi komedi agar dia memperoleh Golden Tiket. Seperti komedi gelap.
Selain menjadikan dunia pelawak tunggal sebagai latar cerita, film ini menggunakan modus hubungan yang penuh konflik antara anak dan ayah, yaitu antara Tawa dan Keset, ayahnya yang diperankan dengan begitu emosional oleh Teuku Rifnu Wikana. Banyak hal yang membuat hubungan ayah dan anak memburuk, salah satu dan yang paling banyak terjadi adalah karena peran dan tanggung jawab seorang ayah yang diabaikan. Si anak yang tidak pernah minta dilahirkan mau tak mau harus menanggung penderitaan yang tidak ringan, fisik maupun mental. Ini yang dialami Tawa.
Bukan hanya Teuku Rifnu Wikana yang memainkan karakter seorang ayah dengan sangat emosional, tapi juga Marissa Anita. Mereka berdua piawai memainkan perasaan penonton untuk tertawa sekaligus berkaca-kaca pada saat hampir bersamaan. Setelah menjadikan tragedi hidupnya sebagai bahan lawakan, Tawa juga menjadikan kelakuan tak bertanggung jawab ayahnya sebagai bahan lawakan. Tetapi apakah semua bisa dijadikan lawakan? Ternyata tidak, setidaknya bagi Tawa, hanya Tawa yang boleh mengejek ayahnya menjadi materi lawakan. Teman-temannya tidak boleh mengejek ayahnya.
Film ini tidak memperlihatkan tragedi yang dialami Tawa dan ibunya yang ditinggal ditinggal Keset demi mengejar mimpinya menjadi pelawak di televisi. Tragedi itu cukup diungkapkan lewat dialog dan materi lawakan Tawa. Dan itu sudah lebih dari cukup bagi penonton untuk turut merasakan kekecewaan Tawa dan Ibunya serta memaklumi sakit hati dan dendam mereka berdua terhadap Keset sehingga penonton paham kenapa Ibu Tawa sulit memaafkan Bapak Tawa.
Skor: 8/10 Bintang
review oleh: Aris Kurniawan