Sejarah, Drama, dan Kehidupan Kaisar Terakhir Tiongkok
Dari judulnya, bahwa ini adalah biopik tentang Kaisar terakhir Tiongkok, Puyi. Sutradara Bernardo Bertolucci mengangkat kehidupan Puyi sang Kaisar. Puyi menjadi kaisar Dinasti Qing pada usia 3 tahun di tahun 1908. Karena masih sangat muda, Puyi dikontrol ketat oleh orang-orang di sekelilingnya.
Di luar dinding Istana, Tiongkok tengah menghadapi dampak kekalahan Perang Candu beberapa waktu sebelumnya. Selain itu, korupsi juga terus merebak di kalangan pemerintahan Dinasti Qing. Hal tersebut membuat penderitaan rakyat Tiongkok makin parah.
Kondisi ini memicu Revolusi Xinhai tahun 1911, yang menggulingkan Dinasti Qing. Pasukan Republik Nasionalis di bawah Sun Yat-sen berhasil menguasai Kota Terlarang, dan sejak itu Puyi hanya menjadi simbol kaisar, sementara kekuasaan nyata dipegang oleh Nasionalis. Ia dan pengikut setianya tetap diperbolehkan tinggal di Kota Terlarang hingga 1924.
Menjelang dan saat berlangsung Perang Dunia II, Puyi memilih bekerja sama dengan Jepang dan menjadi Kaisar boneka di Manchuria, dimanfaatkan untuk kepentingan aneksasi wilayah Tiongkok. Setelah kekalahan Jepang pada 1945, Puyi ditangkap dan menjalani re-edukasi di bawah pemerintahan Komunis Tiongkok.
Sutradara Bernardo Bertolucci sungguh beruntung ketika membesut film ini. Karena film yang rilis pada tahun 1987 ini, diperbolehkan syuting di dalam Kota Terlarang (Forbidden City) oleh Pemerintah Tiongkok. Memberikan nuansa otentik terhadap kisah Puyi selama berada dalam Kota Terlarang.
Film ini juga tak mau terjebak dalam skala besar peristiwa sejarah yang luas dan Panjang selama hidup Puyi. Kisah tetap fokus pada perjuangan emosional Puyi yang kesepian, kehilangan identitas, dan pencarian makna hidup.
Puyi hidup di persimpangan sejarah Tiongkok: dari kekaisaran ke republik, dari koloni boneka Jepang ke era Komunis. Kisah hidupnya sangat dramatis, membuat film The Last Emperor menjadi salah satu biopik sejarah epik dan autentik.
The Last Emperor menyoroti konflik antara individu dan sejarah. Puyi adalah simbol tragedi; memiliki gelar kaisar, namun tidak pernah memiliki kendali atas nasibnya. Film ini menyampaikan pesan universal tentang identitas, kehilangan, dan keterbatasan kekuasaan.
Skor: 8.5/10 Bintang
review oleh: John Tirayoh